Dee Lestari: 'Saya Bisa Break Panjang dari Membaca Buku'

Dee Lestari: Saya Bisa Break Panjang dari Membaca Buku
DOK. PRIBADI

Sang penulis berbagi tentang buku terbarunya, writer's block dan bagaimana memotivasi minat baca anak. 

Awal bulan April Dee Lestari merilis buku Kepingan Supernova. "Ini idenya sudah ada sejak lama, bahkan sejak Supernova yang pertama, tapi baru terealisasi sekarang," ujar Dee saat dihubungi oleh WOOP. Selain membicarakan tentang buku terbarunya itu, Dee Lestari juga berbagi tentang bacaan terfavoritnya sepanjang 2016 lalu dan sepanjang masa. 

WOOP: Bagaimana rasanya setelah menyelesaikan Kepingan Supernova

Dee Lestari: Untuk Kepingan Supernova, pekerjaan saya lebih mensupervisi karena sebetulnya semua materi sudah ada, tinggal dikurasi, diedit, dan didesain. Jadi, saya lebih berada dalam posisi urun saran. Sebagian besar dilakukan oleh tim editor Bentang Pustaka dan desainer saya, Fahmi Ilmansyah. Rasanya tentu saja senang, karena sebetulnya kumpulan kutipan ini adalah ide saya sejak lama, bahkan dari sejak Supernova 1, tapi baru terealisasi sekarang. Saya rasa momennya juga lebih tepat karena serial Supernova sudah tamat, jadi kumpulannya sudah lebih lengkap dan kaya. Kami luncurkan sekaligus memperingati setahun selesainya serial Supernova.

Selama proses pembuatan pernahkah mengalami writer's block dan biasanya apa yang dilakukan?

Writer’s block bergantung dari definisi kita sebetulnya. Bagi saya, yang terjadi lebih seperti “macet sesaat” ketika proses menulis panjang, yang mana hal itu wajar terjadi. Untuk macet seperti itu biasanya yang dilakukan hal-hal sederhana misalkan istirahat sejenak, olahraga, rekreasi. Yang jelas, ketika sudah punya deadline maka kita coba patuhi itu. Jadi ketika terjadi macet, kita tidak memundurkan deadline melainkan kita coba terus di hari berikutnya, dan seterusnya.

Sebagai seorang penulis Indonesia yang sudah aktif selama bertahun-tahun, bagaimana pendapat Anda tentang dunia literatur Indonesia, terutama fiksi? 

Pekerjaan rumah dari industri buku masih banyak, dari mulai masalah pajak, harga buku, retail, penerjemahan, dsb. Secara kultur dan sistem, kita masih perlu meningkatkan minat baca. Sebagai profesi, penulis juga masih perlu advokasi, asosiasi yang profesional, regenerasi, dan meningkatkan skill.

Sebagai penulis dan juga ibu, apakah tips untuk memperkenalkan dan mendorong anak untuk lebih tertarik membaca buku?

Dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan. Kita berikan sudut membaca yang nyaman, akses kepada buku yang mudah, dan juga menjadikan buku sebagai hadiah bagi momen-momen tertentu hingga mereka punya persepsi bahwa buku itu berharga dan membahagiakan.

Seberapa sering dan banyak Anda membaca? Adakah target jumlah buku yang harus diselesaikan dalam, misalnya, setahun atau sebulan?