Jovi Adhiguna: 'Aku Nggak Ngerti Kenapa Seseorang Bisa Sangat Membenci Orang Lain di Sosial Media'

Interview Jovi Adhiguna: Bicara Soal Gender sampai Bullying
WOOP.ID
Interview Jovi Adhiguna: Bicara Soal Gender sampai Bullying

Vlogger Indonesia ini bercerita tentang "labelnya" dan rasa optimismenya. Seperti apa tanggapannya?

Jovi Adhiguna tertawa lebar saat mendengarkan permintaan maaf saya saat kami bertemu muka untuk pertama kalinya. "Kirain aku yang salah kirim, lho. Haha," ujarnya tertawa, memperlihatkan deretan rapi gigi putih, dua lesung pipit, dan matanya ikut berbinar geli. 

Putar ulang adegan 45 menit yang lalu. Bangga tiba tempat waktu yang sudah disepakati bersama, saya mengirim pesan kepada Jovi bahwa saya telah tiba dengan selamat dan menunggu instruksi lebih lanjut. Ini balasannya:

"Hahhhh? Plaza Indonesia? :((("

Ternyata saya salah baca, alhasil salah tempat. Malu dan merasa seperti orang bodoh sedunia? Melampaui lapisan mesosfer. Setelah meminta maaf dan berjanji akan secepatnya terbang ke sana, balasannya:

"Hahahahahah gak papa santaiii. Aku jam 7 ada acara lagi aja pokoknya." 

"Kabarin aja kalau udah sampe."

Akhirnya kami bertemu—sama sekali tidak sulit mencarinya di antara yang lain dengan tinggi badan 173 dan rambut gondrong—dan yah itu... Jovi menanggapi permintaan maaf saya dengan santai. Untuk seseorang yang sudah lumayan sering mewawancarai nama terkenal, tidak sulit untuk mengenali bahwa "kesantaiannya" itu murni. 

Selama hampir satu jam kami mengobrol, Jovi menjawab semua pertanyaan saya dengan santai, ekspresif, sambil sesekali merapikan rambutnya. Bahkan saat dia mengatakan bahwa dirinya sudah sejak lama suka anime, flamingo, dragon ball, dan mahluk mitologi seperti unicorn (di profil Instagramnya tertulis: content creator and part time unicorn) dan saya dengan idiotnya menyeletuk, "aneh juga ya, cowok suka unicorn."

"Kenapa aneh kalau cowok suka unicorn," tanyanya santai. "Ini seperti norma, kebiasaan yang selama ini ada di masyarakat. Misalnya, saat kita masih sekolah dulu, selalu diajarin kalau gambar gunung itu begini: dua gunung, ada jalanan, matahari di atasnya (sambil menggambarkannya di atas meja). Kalau nggak begitu, yah salah. Padahal 'kan, harusnya nggak papa kalau berbeda," tukasnya dengan serius. 

Sebagai seorang social media influencer dan vlogger, Jovi mulai dikenal massal beberapa tahun belakangan. Awalnya terlihat oleh publik secara tidak sengaja melihat sosoknya dari sebuah video adiknya, Sarah Ayu, seorang selebgram dan beauty vlogger—keduanya disebut sebagai the Hunter Siblings. “'Itu siapa? Kylie Jenner, ya?' kata orang-orang yang melihat sekelabat bayanganku waktu itu. Haha," kenang Jovi. "Saat itu rambut aku berwarna biru, dan sepanjang pantat," tukasnya sambil menunjukkan panjang rambutnya waktu itu dengan tangan kanan.

Sekarang rambutnya sepanjang dada dan berwarna cokelat dengan blonde highlight. Dari situ, Jovi dan sang adik membuat beberapa video, meskipun hal ini bukan sesuatu yang gampang karena, "Dulu aku juga sangat pemalu," katanya. "Udah deh, di balik layar aja," lanjut lulusan fashion design dari Telkom Bandung ini sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, "tapi setelah bikin video, tertanya banyak yang lihat dan relate sama aku. Ini membuat aku berpikir: 'jadi apa yang gue takuti dan tutupi selama ini ternyata bisa menjadi kekuatan gue, dan orang lain suka?'" ceritanya dengan nada terkejut dan tidak percaya. "Yah sudah, akhirnya aku teruskan sampai sekarang." 

Sampai sekarang, di Instagram Jovi memiliki 149 ribu pengikut (dan pasti akan terus bertambah) dan ada lebih dari 105 ribu subsciber di channel YouTube Jovi Adhiguna Hunter. Dan Jovi yang berbicara di depan saya hari itu tidak jauh berbeda dengan yang terlihat di video-videonya di media sosial: energetik, ekspresif, dan ceplas-ceplos. 

"Awalnya aku dan adekku berpikir membuat sebuah persona lain, tapi karena kita berdua memang nggak bakat bikin persona lain, akhirnya yang terlihat di video-video, di sosial media itulah diriku yang sebenarnya," jawab Jovi. 

Menerima dirinya yang sebenarnya, yang menurutnya "eksentrik sejak kecil", bukan perjalanan yang gampang. Ada suatu masa dalam hidupnya karena ingin menyenangkan orang lain, Jovi memutuskan mengubah dirinya. "Namun, sama sekali nggak enak, sehingga akhirnya aku go back to beingme. Dan itu tidak ada salahnya. Sama sekali tidak salah." 

Sehabis SMA bersama dengan ibunya, bahkan Jovi pernah mengunjungi seorang psikiater untuk mencari tahu "siapa sebenarnya dirinya." "Aku diberi tahu sama psikiater bahwa memang ada orang yang kromosom X-nya lebih dominan, atau Y-nya yang lebih dominan. Nah, aku cowok tapi kromosom Y-nya lebih dominan."

Apa responnya setelah mendengarkan penjelasan itu? "Cuma bilang 'oh,'" jawab pria yang sudah berusia 27 ini, tertawa, dan merapikan rambutnya. Orangtua dan keluarganya sendiri dari awal menerima diri Jovi apa adanya. "Mungkin karena latar belakang keluargaku nggak hanya dari Indonesia aja kali ya, kita dari berbagai negara, jadi referensi kita dari berbagai negara dan lebih terbuka," ujar laki-laki blasteran Belanda dan Cina ini. 

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya...