Kamu Singel, Tidak Punya Tanggungan, Saldo di Bank Melimpah Harus Dikemanakan Uang Itu?

Kamu Singel, Tidak Punya Tanggungan, Saldo di Bank Melimpah Harus Dikemanakan Uang Itu?
ISTOCK

Salahkah jika dipakai untuk jalan-jalan dan beli 10 lipstik?

Sebut saja kamu tidak/ belum menikah, tidak punya tanggungan, memiliki karier bagus, dan (bukannya arogan), saldo di rekeningmu... krik krik krik wow! Ibaratnya, jika memutuskan ingin terbang ke Bali akhir pekan ini, tinggal menggesek kartu, tanpa berpikir 99 kali. Apa yang sebaiknya kamu lakukan dengan uang tersebut—maksudnya, selain untuk membeli Givenchy zebra-print turtle-neck sweater? Yep, kita sedang membicarakan bagaimana membuat perencanaan keuangan untuk amatiran.

Satu yang pasti, kata Eko Endarto, seorang konsultan keuangan dari Finansia Consulting, bahwa, "uang sebenarnya bukan hanya untuk belanja, tapi juga sarana untuk berbagi dan menentukan masa depan. Jadi ketika kita memiliki uang, sebaiknya punya prioritas yaitu untuk sosial, masa depan dan baru untuk saat ini." 

Sebut saja kamu menerima gaji setiap tanggal X—begitu masuk ke dalam rekeningmu, Eko menyarankan untuk mengalokasikannya ke dalam empat kompartemen utama: 

  1. untuk sosial/ agama,
  2. untuk cicilan utang,
  3. untuk investasi dan proteksi, dan
  4. untuk konsumsi. 

Beberapa waktu yang lalu ada cerita viral tentang sebuah nasihat keuangan dari sebuah sebuah lembaga pensiun (siap-siap merasa gagal): jika sekarang berusia 35 tahun, seharusnya kamu sudah memiliki tabungan untuk dana pensiun sebesar dua kali jumlah gaji tahunanmu. Sebagai bayangan, jika gajimu sekarang berkisar 10 jutaan, dan berumur 35 tahun, berarti simpanan tabunganmu logikanya—menurut lembaga ini— sudah mencapai 240 juta. Minimal. Bisa ditebak reaksi di media sosial—terutama milenial. Huru-hara melanda dunia media sosial. 

Tidak adakah angka yang lebih rasional, yang tidak membebankan, dan membuat tertekan? "Minimal untuk tabungan dan investasi adalah 10% dari penghasilan. Makin terlambat mulai maka makin besar alokasinya," jawab Eko dengan tegas. 

Seandainya boleh jujur, memikirkan investasi, tabungan, pensiun, bla bla bla, membuat kepala mendadak berputar layaknya gasing terkena kutukan, dan beban hidup bertambah berlipat-lipat. Tidak bisakah menunggu, hm... misalnya nanti saja? Eko menjelaskan bahwa sebaiknya hal tersebut janggan ditunda, "harus," tukasnya, "karena kita nggak bisa mengendalikan risiko, dan hanya kita yang bisa menentukan masa depan kita. Termasuk pensiun." 

Oh, oh, bagaimana dengan properti? Baru-baru ini topik pembicaraan hangat saat nongkrong bersama teman di kafe atau klub adalah 'mencicil apartemen atau rumah'. Entah kenapa, setiap kali subjek itu berada di sekitar meja, mendadak ingin lari ke kamar mandi, kabur dari jendela, dan tidak kembali lagi. 

Menurut Eko, properti adalah salah satu bentuk keberhasilan kita dalam memiliki aset. "Karena properti adalah aset yang meningkat nilainya. Walaupun mungkin belum prioritas, namun kalau terlambat akan menyusahkan kita sendiri, khususnya kalau kita mau kredit," ujarnya. Jadi, jika setelah menilik kondisi keuangan kamu merasa sudah mampu, sebaiknya mulai dipikirkan dari sekarang. "Makin lama maka makin berat nanti cicilannya. Apalagi kenaikan harga properti selalu lebih tinggi dari inflasi," tekannya. Terlebih, "ketika kita sudah berkeluarga dan memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, misalnya anak."

Hei, penjelasan dan saran ini bukan untuk membuat kepala meledak, atau merasa bersalah, ya. Bahkan, ketika sekarang prioritasmu adalah traveling, dan harus sering memperbaharui isi lemari (karena tuntutan profesi misalnya, atau karena memang hobi)—tidak perlu langsung memangkas biaya gila-gilaan, dan menyiksa diri tersiksa. Eko menyarankan satu trik simpel untuk mengetahui apakah interesmu masih dalam jalur aman: "Sederhananya, kalau kita kredit maka angsurannya tidak boleh lebih dari 30% penghasilan bulanan." Jadi, misalnya jika selama ini biaya jalan-jalan dan menyenangkan diri dengan kartu kredit cicilannya tidak membumbung melebihi angka tersebut—kamu bebas dari bahaya. Dan ini (fokus jalan-jalan, beli baju, peralatan dandan)—tolong digarisbawahi, "bukan sesuatu yang salah," kata Eko. Asaaal, "tetap lakukan dulu kewajiban dan prioritas di atas. Sisanya, boleh untuk jalan-jalan." 

Ah, itu dia susahnya: mengingat prioritas–dan melakukannya dengan setia. Saran Eko: "Minta bank atau HRD untuk potong langsung dari gaji bulanan," untuk dimasukkan ke dalam dana tabungan, misalnya.

HALAMAN
12