Banner

Kerja dari RumahBagamana Menjelaskan Kepada Si Kecil Bahwa Kamu Tidak Bisa Bermain Seharian

Kerja dari RumahBagamana Menjelaskan Kepada Si Kecil Bahwa Kamu Tidak Bisa Bermain Seharian
ISTOCK

Haruskah menyanyikan lagu Rihanna berkali-kali? Werk, werk, werk... 

Hari ini kamu memilih bekerja dari rumah. Atau, selama ini memang kamu sudah bekerja dari rumah. Menyenangkan karena tidak perlu bertemu dengan jalanan, dan bisa memakai daster delapan jam. Si kecil pun bahagia, karena bisa bermain dengan sang ibu seharian. Ah, padahal tujuanmu adalah menjadi produktif dan menyelesaikan daftar pekerjaan yang semakin lama semakin panjang. Bagaimana cara memberi pengertian kepada anak bahwa sang ibu akan bekerja terlebih dahulu—mainnya, nanti. 

"Terutama pada anak-anak usia kecil, menjadi orangtua yang bekerja di rumah terasa semakin menantang," Mayang Gita Mardian, M. Psi., Psikolog., seorang psikolog anak dari Tigagenerasi, membenarkan. "Orangtua diharuskan membagi peran diri serta waktunya di satu tempat (rumah) baik untuk bekerja maupun mengurus anak (sebagai orangtua). Kedua peran ini yang sering kali tercampur sehingga tampaknya menyulitkan." Artinya, menjadi double agent, ibu dan pekerja, pada saat dan tempat yang bersamaan—dan ditantang untuk menemukan strategi yang tepat.

Tidak bisa dipungkiri, ada banyak sisi positif ketika orangtua bekerja dari rumah, salah satunya adalah fleksibilitas waktu yang dimiliki. “Orangtua dapat menetapkan sendiri jam bekerja mereka terutama bila memiliki pekerjaan sebagai pemilik suatu usaha. Otomatis, orangtua memiliki waktu yang lebih banyak untuk memantau perkembangan buah hatinya sendiri,” ungkap Mayang. Tidak heran jika akhirnya banyak orangtua yang memilih untuk bekerja dari rumah. Belum lagi saat melihat si kecil sumringah dan melompat-lompat kegirangan ketika menyadari bahwa ada teman bermain di rumah hari itu. Semakin diteguhkan bahwa keputusan untuk memilih bekerja dari rumah merupakan sesuatu yang tepat. Lalu datang momen itu: si anak sulit melepaskan tangan si ibu, tidak rela jika ibu membagi perhatiannya kepada sebuah email dari seseorang yang tidak dia kenal.

Sama sekali bukan sesuatu yang negatif. Dengarkan ini: “Adanya keinginan anak untuk berinteraksi dengan orangtuanya dapat menjadi salah satu tanda hubungan orangtua dan anak baik. Anak merasa lekat dengan orangtua dan memiliki kebutuhan untuk berkegiatan bersama orangtuanya yang tidak bisa dipenuhi oleh orang lain," ujar Mayang. Akan tetapi, lain halnya, "bila anak sedikit-sedikit minta ditemani atau selalu merengek untuk bermain rasanya—akan menjadi serba salah." Lantas apa yang bisa dilakukan orangtua? "Dalam hal ini, orangtua justru dapat memanfaatkan kehadiran pengasuh,” tuturnya.

Ah, pengasuh—pahlawan tanpa tanda jasa yang memungkinkan banyak ibu beraktivitas dengan tenang. 

Namun, tetap saja ada yang bisa dilakukan oleh ibu. Berikut beberapa tips dari Mayang agar kamu bisa bekerja lebih lancar dari rumah:

  • Tetapkan tempat dan waktu bekerja selama di rumah.

  • Di luar waktu bekerja, anak baru dapat bermain dengan intens bersama orangtua. Saat orangtua bekerja, pengasuh dapat dimintai tolong untuk menemani anak bermain.

  • Berikan sejumlah ide permainan atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengasuh dan anak selama orangtua bekerja.

“Terkadang pengasuh memiliki pekerjaan lain selain menemani anak bermain. Untuk hal ini, anak dengan usia yang lebih besar dapat ditinggal di tengah rumah atau berada dekat dengan orangtua (tentunya dengan adanya kesepakatan aturan) sambil disediakan sejumlah kegiatan untuk dapat dilakukan sendiri. Misalnya, bisa menyediakan lego, puzzle, atau ajari anak keterampilan baru, seperti mengepang rambut boneka atau membuat origami,” sarannya.

Bilang saja, segala cara telah dicoba agar anak fokus kepada hal lain, agar "lupa" bahwa ibunya ada di rumah dalam beberapa jam—tapi tetap saja si kecil yang imut menghampiri kamu setiap 10 menit. Untuk itu, orangtua harus benar-benar memberikan penjelasan agar anak bisa mengerti.

“Orangtua sudah dapat memberi penjelasan pada anak yang lebih besar bahwa orangtuanya memiliki rutinitas yang tampak berbeda dengan orangtua lain yang pergi bekerja ke kantor pada pagi hari. Anak diberikan penjelasan bahwa meski orangtua tidak ke kantor, tapi sebenarnya orangtua juga bekerja dari rumah dan memiliki tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan,” tutur Mayang.

Selain itu, menurut Mayang, orangtua juga dapat memberitahukan tempat dan waktu bekerjanya kepada anak agar si anak diharapkan bisa meminimalisir interaksi dengan orangtua selama jam kerja. “Meski begitu, orangtua juga harus memberitahukan kepada anak bahwa akan ada jadwal bermain setiap harinya. Namun, jika memang sedang mengerjakan pekerjaan yang penting, orangtua bisa memberikan tanda yang dapat dipahami anak (jika tidak ingin diganggu). Misalnya seperti memberikan tanda ‘jangan ganggu’ di pintu ruang kerja,” tambahnya.

Kesimpulannya: sebaiknya dibuat aturan yang jelas dan berikan pengertian anak kepada aturan tersebut. Dan paling penting: konsisten—orangtua sebaiknya konsisten dengan aturan yang sudah disepakati. Pasalnya, siapa sih, yang tidak lumer hatinya saat anak tersenyum lucu, atau bahkan menangis? Hanya manusia berhati batu!

“Iya, sangat perlu peraturan dibuat," tegas Mayang. "Mengingat setting rumah tampak lebih fleksibel bagi anak sehingga anak berpikir orangtua mereka dapat ‘diganggu’ untuk bermain. Aturan diperlukan untuk membantu orangtua memisahkan peran antara menjadi pekerja dan orangtua sehingga menjadi lebih rapi,” jelasnya.

Seringkali orangtua mengucapkan ini kepada anak, "nanti ya, Ibu kerja dulu supaya dapat duit dan bisa main lagi"—apakah hal ini cara yang tepat mengalihkan perhatian anak, misalnya dari permintaan mendapatkan mainan baru? Baca pendapat ahli keuangan dan psikolog pendidikan ini.