Kesalahan #1 yang Harus Kamu Hindari Saat Berinvestasi

Kesalahan #1 yang Harus Kamu Hindari Saat Berinvestasi
ISTOCK

Mata kuliah: Investasi Dasar.

Tidak peduli berapa kali kamu membaca sesuatu tentang investasi, tetap saja mengintimidasi. Soalnya, itu lho, terlalu banyak istilah finansial yang hanya orang Bursa Efek Jakarta yang tahu. Itu, plus pemikiran bahwa harus memelototi turun-naik harga saham, membuatmu mengurungkan niat. Padahal, tahu banget kalau berinvestasi itu sangat bermanfaat. 

"Banyak keuntungan yang didapat dengan berinvestasi, tapi menurut saya pribadi, alasan yang terpenting adalah karena adanya inflasi, yaitu penurunan nilai mata uang. Dengan berinvestasi maka hasil investasi tersebut akan berpotensi melebihi tingkat inflasi," ujar Anissa Prastiwi, seorang Certified Public Accountant & Tax Consultant, melalui e-mail kepadaWoop. "Selain itu, investasi diperlukan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan, misalnya dana pendidikan atau dana pensiun," lanjutnya. 

"Dan semua orang sebaiknya perlu berinvestasi," tegasnya. 

Ah, sepertinya memang harus memulai memberanikan diri ya, jika tujuannya begitu 'mulia'. Namun, masih bingung tentang modal utama dan apa yang harus dipersiapkan saat ingin berinvestasi. Uang, pasti nomor satu 'kan, ya?

"Modal utama memang perlu ada uang, karena tanpa uang kita tidak dapat membeli investasi," Anissa membenarkan. Dan menurutnya, banyaknya uang yang dibutuhkan untuk berinvestasi berbeda-beda, bergantung dengan instrumen investasi yang diinginkan. "Beberapa jenis investasi mungkin akan mensyaratkan untuk menanamkan investasi dengan nilai yang cukup besar. Namun, masih banyak juga jenis investasi lain yang dapat dimiliki tanpa ada minimum pembelian. Jadi, harus cari tahu dulu investasi yang diinginkan dan disesuaikan dengan budget masing-masing."

Lalu, tidak hanya itu: "hal kedua, sebelum berinvestasi, pastikan kebutuhan dana jangka pendek (minimal tiga sampai enam bulan) sudah terpenuhi. Karena umumnya kita berinvestasi untuk memperoleh return dalam jangka panjang. Jadi jangan sampai rencana investasi jangka panjang kita terganggu dengan kebutuhan jangka pendek.

Jadi, jangan sampai hanya karena mau berinvestasi, cicilan rumah tidak bisa dibayar, anak tidak punya uang saku, dan makan tidak mampu. 

Lalu, ketiga: kenali profil risikomu sendiri, karena "dengan dengan mengetahui profil risiko diri sendiri, dapat membantu memilih jenis investasi yang diinginkan," jelasnya.

Ada beberapa profil risiko:

  • risk averse (memilih jenis investasi dengan risiko rendah, misal: emas, obligasi pemerintah),

HALAMAN
123