Memang Duit Bukanlah Topik FavoritTapi Wajib Dibicarakan Sebelum Dilamar

Memang Duit Bukanlah Topik FavoritTapi Wajib Dibicarakan Sebelum Dilamar
ISTOCK

Ada daftar pertanyaan yang mungkin membantu.

Persamaan seks, religi, dan duit = sama-sama kebutuhan dasar tapi entah kenapa tiga topik yang jarang dibicarakan dengan serius—termasuk kepada pacar, atau kalau yang sedang serius, calon suami. Padahal, dalam hitungan dua bulan akan resmi menjadi Nyonya siapalah.

Dengarkan, alasan mengapa kamu wajib (bukan sukarela, ya) mendiskusikan hal ini sebelum menikah: "agar kita mengerti dan mengetahui dengan jelas posisi finansial kita dan pasangan kita saat ini. Berapa banyak asetnya, apa saja kewajibannya, utang apa yang saat ini sedang dijalani dan hadapi, proteksi yang sudah dimiliki, dimana saja ia menginvestasikan asetnya, bahkan mungkin hingga tujuan finansialnya," papar Floura Lesmana, dari Jouska Financial. "Di tahap pacaran pun tentu kamu sudah bisa mulai menilai dan melihat bagaimana calon pasanganmu menggunakan uangnya. Sebelum kita memutuskan menikah dan terikat secara hukum, ada baiknya kita memperhatikan sejak awal apakah kita dapat hidup bersama dengan orang tipe tersebut."

Seserius itu? Hu-uhh. Selain itu, kata kunci yang lain adalah saling terbuka. Pasalnya, ini akan membuat kita mengetahui dengan jelas apa yang akan kita hadapi ketika memilih menjadi pasangannya. Misalnya setelah berbicara panjang kali lebar kali tinggi, kamu akhirnya paham dari awal bahwa orangtua calon pasanganmu memiliki utang sekian Rupiah. Atau ternyata tersingkap bahwa kamu adalah tulang punggung keluarga—harus menyisihkan pendapatan untuk orangtua, adik, sepupu, dsb. Dan fakta ini bahwa kamu masih menyumbangkan sebagian penghasilanmu kepada keluarga sesuatu yang krusial dipaparkan kepada calon suamimu.

"Ini satu hal yang seringkali dilupakan banyak orang bahwa bagaimana tanggung jawab kita terhadap keluarga, misalnya seberapa besar yang kita berikan untuk keluarga atau untuk mengatasi masalah yang dihadapi keluarga. Mengapa hal ini penting? Karena sering terjadi kita mengeluh terhadap pemberian pasangan terhadap keluarga. Jadi, jangan sampai hal ini terjadi kepada kita," Floura mengingatkan. 

Ini artinya, kita bisa mempersiapkan sejumlah dana untuk kepentingan tersebut sehingga kebutuhan tetap terpenuhi meskipun ada penyesuaian. "Dengan saling terbuka, juga akan mempermudah kamu dan calon pasangan ketika harus mengambil keputusan yang berkaitan dengan finansial, misal ketika akan membeli sebuah mobil, kalian berdua akan sama-sama tahu mobil seperti apa yang diperlukan dan dapat kita beli—tidak ada lagi yang perlu ditutupi karena gengsi," paparnya. 

Mengerikan dan membuat gerah mungkin membicarakan harta dan utang. Namun, pikirkan hikmahnya: kamu menjadi tahu posisimu dan pasangan saat ini. Memiliki gambaran kemana harus melangkah, dan sejauh apa langkah kalian berdua.

Bilang saja, kamu sudah pacaran selama X tahun dan belum pernaaah menyinggung soal duit. Satu-satunya pembicaraan tentang uang yang terjadi di antara kalian adalah: siapa yang membayar makanan/minuman ini, siapa yang membeli kado ulang tahun si A, atau siapa yang menanggung tiket bioskop hari ini. Namun, sebenarnya adakah "deadline" kapan harus duduk berdua dan berbicara dengan serius tentang hal ini?

"Timeline khusus sepertinya tidak ada," ujar Floura, "karena setiap orang memiliki batasan yang berbeda dalam tahap pacaran. Namun akan lebih baik jika hal ini dilakukan setelah kamu dilamar, karena kamu akan masuk ke tahap yang lebih serius sehingga sudah masanya untuk saling terbuka sebelum akhirnya hidup bersama."

Skenario lain: kamu sudah "terlanjur" dilamar—nah, seharusnya, pembicaraan sensitif ini menjadi lebih gampang. "Karena kamu sudah lebih mengenal pasanganmu sehingga tahu bagaimana dan momen yang tepat untuk membicarakan hal ini," papar Floura.

Jadi, jika selama ini salah satu penyebab kamu urung membicarakannya adalah karena takut batal menikah, seharusnya tidak perlu khawatir. "Tujuannya bukan untuk membatalkan pernikahan jika ternyata fakta yang kita hadapi berbeda dengan ekspektasi kita, namun sebaliknya, untuk set expectation." Dengan kata lain, realistis. Diulangi: REALISTIS.