Novita Angie: 'Aku Melihat Sekarang, Kenyamanan Is Beyond Cinta'

Novita Angie: Aku Melihat Sekarang, Kenyamanan Is Beyond Cinta
WOOP.ID/YOGO TRIYOGO

Penyiar radio ini bercerita tentang pernikahan beda agama, nyaman vs cinta, dan tuntutan media sosial.

"Aku memang suka ngomong, cerita—apalagi sekarang ngomong dan dibayar," celetuk Novita Angie seraya tertawa. Dia adalah tipe narasumber favorit para jurnalis. Di saat orang terkenal lain mungkin hanya akan senyum-senyum dan menjawab dengan dengan nada diplomatis ketika ditanya 'apakah sedang berdiet', Angie merespon: "Aduh, ketahuan, deh," sambil terbahak. "Ngeliat bungkusan teh di dapur, ya?" tanyanya penasaran, dan membelalakkan mata. Saya mengangguk. "Haha, sebenarnya karena merasa sudah nggak enak aja, pake baju makanya diet," terangnya dengan suara beratnya. 

Sebelum ayahnya meninggal (1 Desember tahun lalu), Angie mengaku seorang yang berolahraga rutin, "paling tidak empat kali seminggu." Namun karena kesibukan mengurusi pemakaman dan lain sebagainya, "menjadi kendor." Selain itu, "Coba sih, olahraga gila-gilaan lagi, tapi habis itu badan sakit semua! Umur memang tidak bisa bohong. Makanya coba diet dan makan sehat dulu," ucapnya seraya tertawa.

Salah satu yang dihindarinya adalah: nasi dan mie instan. Waduh, kenikmatan dunia itu! "Iyaaa," jawabnya dengan nada memelas dan ekspresi sedih. "Lagi hujan-hujan begini orang makan mie instan, jahat banget, kan?" katanya dengan nada minta dikasihini. Dan cobaannya semakin berat, karena anaknya suka makan mie. "Kalau datang kangennya, dan anakku mesan mie, aku bilang , 'Mami minta sesuap boleh?' Haha kangen!" ujarnya terbahak. 

Novita Angie memulai karirnya sebagai salah satu Finalis Gadis Sampul 1992 saat masih berusia 16 tahun. Lalu dilanjutkan dengan membintangi beberapa sinetron, pembawa acara, dan akhirnya berhasil mewujudkannya cita-cita utamanya sebagai penyiar radio pada tahun 1997, di radio Mustang Jakarta. Kenapa penyiar? "Papaku tuh, penyiar radio, radio Elshinta—tapi Elshinta jaman dulu, ya. Dari situlah, sebelum Papa punya aku, Papa sudah menjadi penyiar radio. Papa baru berhenti siaran tuh, pas... hmm..," Angie berhenti sebentar, "aku berumur 21 tahun. Lama banget! Dan aku sering bawa siaran. Ini pekerjaan yang menyenangkan, terutama karena aku suka musik, aku suka ngomong. It’s a good combination, it’s a perfect combination. Dan dibayar pula. Haha." 

Dan sampai sekarang pun, jika ada seseorang yang mendatanginya dan berujar, 'Aku dengarin kamu lho, setiap pagi,' Angie mengaku sangat, sangat senang. "It’s something like you are very passionate about, yang benar-bener cita-cita.Kalau tv, pakai body language, itu ketolong. Pakemakeup, baju bagus. Sementara di radio, kita 'busuk', lho. Kadang-kadang cuma mandi belum pake makeup, kadang juga lipstikan.Tapi orang tetap mau dengerin omongan kita, padahal masih pagi. It’s challenge. Apalagi sebelum berangkat ada problematika domestik, yah anak belum ngerjain PR-lah, si mbak tiba-tiba bilang ''ibu saya mau berhenti. Waaah...  menjaga emosi tetap stabil, itu sulit," tegas penyiar yang menyapa pendengarnya dari Senin-Jumat, pukul 6 sampai 10 pagi di acara Breakfast Club, Cosmopolitan FM. 

Dari pertama kali muncul sampai sekarang dirinya dikenal dengan nama Novita Angie, apakah itu nama sebenarnya? 

"Novita Anggraini," jawabnya dengan tegas. "Jadi," katanya sambil mengangkat jari telunjuk seperti pendongeng yang hendak memulai cerita, "balik lagi cerita Papaku waktu masih menjadi penyiar radio, lagu favoritnya adalah Angie dari Rolling Stone." Ahaaa... "Iya 'kan, sudah dapat 'kan? tanyanya dengan mata berbinar. "Jadi, pas aku lahir tahun 1975, lagu itu lagi hits banget jadi Papa tuh, selalu mutarin lagu itu, hmm," terdiam dan berpikir beberapa detik, "entah sebagai penutup atau pembuka siarannya, deh. Nah, namaku Novita Anggraini, tadinya mau dipanggil Anggi, tapi karena Papa suka lagu Angie [menepukkan tangan], dipanggillah Angie [menepukkan tangan lagi]. Gitu. Lumayanlah ya, namanya menjual. Haha," kelakarnya, terbahak. 

img

Sore itu Novita Angie menerima saya, atau lebih tepatnya asisten rumah tangganya, di rumahnya, karena "perkiraan waktunya salah. Tadinya mikir jam 5 pasti sudah bisa sampai di rumahlah dari syuting, tapi ternyata molor. Maaf, ya," ujarnya dengan intonasi tidak enak. Sebelum mengobrol, Angie berfoto terlebih dahulu. "Perlu ganti baju nggak?" tanyanya sambil menunjukkan wardrobe-nya hari itu: kulot hitam, T-shirt putih, scarf berwarna hijau-putih, dan white loafers. Tidak perlu, jawab saya. Dan meski sudah menjadi penyiar radio profesional, Angie masih fasih berfoto—bisa dilihat dari senyum dan telengan kepalanya. 

Satu hal yang paling mencolok (selain suara gonggongan Chihuaha—kalau memang bisa disebut gonggongan) dari rumah yang ditempati bersama suami dan dua orang anaknya yang beranjak remaja ini adalah foto bertebaran di mana-mana. Di setiap sudut dan nyaris setiap permukaan meja. "Walau ada sosial media, tetap aja rasanya nggak sah kalau nggak dicetak dan dibingkai," jelasnya. Foto bersama anak-anak, bersama 'girl squad-nya" (Ersa Mayori, Mona Ratuliu, Meisya Siregar, Nola Baldy), dan foto bersama suaminya, Sapto Haryo Rajasa. Di sebuah sudut, terdapat dua foto besar yang mengabadikan upacara pernikahannya dengan sang suami dalam busana Jawa. "Ih, masih tirus, ya," candanya, tertawa kecil. 

Tepatnya, tanggal 29 Juni 2001, hampir 17 tahun—plus lima tahun pacaran. Jika tidak salah hitung, hampir 22 tahun bersama-sama. Lama. Bukan angka kecil, terutama untuk pasangan yang menikah dengan keyakinan yang berbeda dan sudah diwanti-wanti dari berbagai pihak bahwa 'pasti bakal banyak berantemnya.' "Boook... pernikahan mana sih, yang nggak ada berantemnya,” Angie melebarkan mata. "Gila kali kalau nggak ada berantemnya, kawin ama patung kali. Mana ada sih, apalagi pas lo lagi PMS, pasti kayak macan," tanyanya dengan nada meninggi.

Sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah, "Believe it or not, Puji Tuhan banget, dari pacaran sampai sekarang, kita nggak pernah sekalipun berantem soal agama. Nggak pernah sekalipun," ulangnya dengan nada tegas. Menurutnya pembicaraan soal perbedaan keyakinan ini dilakukannya... bahkan ketika belum resmi berpacaran. 

"Nah, ini geer banget nih, ya," ucapnya dengan nada tidak habis pikir, menggeleng-gelengkan kepala seperti tidak mempercayai diri sendiri. "Justru sebelum menikah, eh… salah sebelum pacaran," tidak bisa menahan diri, Angie terbahak, dan melanjutkan, "sebenarnya pembicaraan ini sudah aku lakukan sebelum pacaran. Jadi, sebelum kita dekat, aku bilang: ‘Gini nih, bukannya gue kegeeran, atau nakutin nih, tapi aku mau kasih tahu nih, dari awal, kalau nih nanti kita pacaran, terus akhirnya kita memutuskan untuk kawin, hmm… gue tuh nggak akan pindah agama dan gue juga nggak akan meminta lo untuk pindah agama,'" Angie menceritakan ulang "the it conversation" itu. Menolehkan kepala ke kiri selama pembicaraan, seakan-akan laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya tersebut berada tepat di sisinya. 'Karena [menepukkan tangannya], buat gue agama itu very [dengan penuh tekanan], principal. Itu hubungan you personal [menunjukkan jarinya ke depan] and your creator. Jadi, nggak ada sangkut pautnya dengan yang lain. Walaupun misalnya keluarga gue akan minta lo untuk pindah agama, gue nggak akan [menggelengkan kepala beberapa kali]. Dan kalaupun [penuh penekenan] satu saat ada yang pindah agama, itu karena terpanggil. Bukan karena ada yang minta. Aku nggak akan minta dan begitu pula sebaliknya, I hope you never ask me to convert'.

Menarik nafas sebentar, lalu, "Gilaaa yah, aku berani ya, untung nggak kabur. Haha," celetuknya seperti baru tersadar betapa beraninya langkahnya memulai pembicaraan tersebut. 

Saat itu Angie masih berusia 19 tahun—dan topik sesensitif itu sulit didiskusikan bahkan untuk pasangan yang secara usia lebih dewasa. Memutar bola matanya, "Aku nggak mau buang-buang waktu, soalnya pacarku yang sebelumnya putus gara-gara beda agama. Eh.. nggak ding," ralatnya cepat, "aku putus gara-gara ketemu suamiku! Hahaha… gitu, deh." 

Meski begitu, "Cuma waktu itu kita ada yang miss, yaitu soal anak," Angie mengakui. "Itu baru kita omongin pada saat aku hamil. Tapi kesepakatannya kita keep it to ourselves, walaupun ada beberapa teman dekat yang sudah tahu. Itu yang agak telat. Untungnya learning by doing, kita udah sampai pada tahap 'sudah cukup mengerti dan mengenal satu sama lain'—jadi pembahasannya juga tanpa berantem."

Bagaimana bisa? 

"Karena kita memang menjalani ini dengan sadar bahwa kita berbeda," jawabnya dengan tegas. Dengan kening sedikit berkerut, Angie melanjutkan, "Dan mungkin balik lagi ke jaman dulu, kita tuh, diajarin PMP—Hahaha, jauh banget ya, generasinya," potongnya seraya tertawa. 

"Diajarin toleransi," lanjutnya dengan tegas. "Diajarkan banget yang namanya kerukunan beragama. Mungkin Papa dan Mama beda agama, jadi memang kerukunan beragama menghargai, toleransi, dari kecil memang terpatri dalam lubuk dan sanubariku," ujarnya sambil meletakkan tangan di dada. "Suamiku orangtuanya diplomat, banyak pergi ke luar yang mungkin membuat pikiran mereka juga sangat terbuka. Jadi walaupun taat beribadah—mertuaku sudah haji—dari awal saling menghargai. Kayak aku Natalan, dikasih kado sama mertua. Lebaran, sungkem ama mertua. Puji Tuhan sampai sekarang masih nggak pernah kita berantem soal ini sedikitpun," tegasnya. 

"Yang pasti aku tahu dari awal, apa yang dia suka dan nggak suka. Udah titik. Nggak akan aku tanya-tanya lagi. Apa yang bisa kulakukan, yah dilakuin. Aku nemenin dia saur, bangunin sholat Ied. Nggak serve something yang haram. Pokoknya saling menghargai," paparnya.