Sekali Terucapkan, 8 Kalimat Ini Tidak Akan Bisa Ditarik Lagi

Sekali Terucapkan, 8 Kalimat Ini Tidak Akan Bisa Ditarik Lagi
ISTOCK

Diucapkan cepat, tapi kerusakannya permanen.

Masih manusia, jadi wajar saja jika ada salah kata dan ucapan. Mohon maaf. Namun, percaya atau tidak, entah konteksnya iseng atau serius, ada beberapa kalimat yang begitu tercetuskan... oops, terlambat—tidak bisa ditarik lagi. Raut lawan bicara mendadak aneh, tegang dan mungkin pucat. Penghitungan hati hancur dimulai, 1, 2, 3... Apa saja kalimat tersebut? Berikut beberapa di antaranya: 

1. “Kamu tidak boleh melakukan ini (atau itu)."

Duh! Salah besar berkata seperti itu, terutama kepada pasangan. Mungkin jika orangtua yang mengatakan hal ini, masih masuk akal, tapi tidak kepada belahan jiwamu. Dalam suatu hubungan, pasti akan ada hal yang dilakukan oleh pasangan dan kamu sebenarnya sanagt menentangnya. Namun, seberapa pun emosinya kamu, sebaiknya hindari melontarkan kalit tersebut karena terkesan kamu adalah pengendali dan penguasa hidupnya. 

2. "Sepertinya, tidak bisa...”

Eitss, kata “sepertinya” saja sudah menandakan ketidakyakinan dalam suatu hal. Kemudian, ditambah “tidak bisa”, berlipat ganda labilnya. Saat kamu diajak atau disuruh melakukan sesuatu (misalnya, mengerjakan setumpuk deadline untuk hari yang sama), dan kamu tidak yakin bisa, lebih baik berkata jujur dibandingkan harus mengatakan “sepertinya, tidak bisa..." Karena kamu akan dianggap tidak professional.

3. “Kayaknya cuma Ibu deh, yang lebih/ selalu tahu, Ayah.”

Pasti pernah berbicara seperti ini kepada ayahmu saat bertanya tentang sesuatu hal? Tanpa disadari, kamu sudah menyakiti perasaan ayah sendiri. Meski sebagai kepala rumah tangga, dia akan merasa tidak dianggap, dan ibu selalu paling benar. 

4. “Ibu sudah pernah bilang kok.”

Pernah tidak ibumu menasehatimu dengan kalimat yang sama berkali-kali (seakan tidak ada lagi kalimat lainnya)? Dan kamu menjawab, “Iya, Bu. Ibu sudah pernah bilang kok. Bahkan ini yang ke-1000 kali kayaknya.” Ternyata oh ternyata, kalimat tersebut mencerminkan bahwa kamu adalah seseorang yang kasar dan pemberontak.

5. “Gaya lo membosankan banget.”

Mungkin, intensinya bercanda tapi bagaimana dengan si penerima? Tidak ada orang yang mau dicap membosankan dalam hidupnya. Kalimat ini juga bisa menimbulkan permusuhan, lho.

6. “Ini tidak adil.”

Yep, ini yang sering diucapkan oleh banyak karyawan (misalnya karena tidak boleh diperbolehkan cuti karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan). Padahal, setelah pekerjaanmu beres, cuti akan diberikan dengan lebih mulus (malah mungkin dihadiahi bonus). Jadi, jangan cepat mengeluh!

7. "Aku ingin cerai!"

Jangan dikatakan kecuali benar-benar yakin. Pasalnya, apa pun yang terjadi selanjutnya—minta maaf, hati berubah, dan berusah memperbaikinya—sekali kata-c ini udara, akan tetap di udara. 

8. "Aku juga benci kamu."

Misalnya ketika anakmu berulah seperti orang kesetanan dan membuat hati, pikiran dan jiwamu terluka. Apa pun yang mereka lakukan dan katakan, "Aku benci ibu/ ayah", jangan dibalas dengan kalimat yang sama. Jangan. Satu respon yang bisa kamu berikan adalah, "iya, ibu dengar kok,"—karena memang tidak mungkin tidak mendengarnya! Orangtua harus ingat pada momen seperti itu yang dibutuhkan oleh anak ada mengekspresikan perasaaanya, bahkan ketika kamu menjadi sakit hati. Setelah tenang, jangan lupa tenangkan hati dengan segelas air putih dan maskeran.

Tidak hanya kalimat-kalimat seperti itu, kebiasaan non-seksual seperti ini juga bisa merusak hubungan.