Self-Esteem vs Self-Acceptance: Mana yang Lebih Penting?

Self-Esteem vs Self-Acceptance: Mana yang Lebih Penting?
ISTOCK

Seberapa sering kamu membandingkan diri dengan orang lain?

Sekilas terlihat sama, tapi berbeda. Dan yang pasti berhubungan. 

Untuk menyegarkan ingatan, "self-esteem (harga diri) merefleksikan bagaimana kita memandang dan menilai kapasitas diri kita sendiri. Pandangan ini terkait dengan seberapa kita yakin dengan kemampuan kita dan seberapa layak kita dihargai oleh orang lain. Self-esteem ini berada pada kontinum tinggi rendah yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental kita secara umum," jelas Irene Raflesia, S. Psi, M. Psi., seorang psikolog klinis dewasa dari Klinik Pelangi, Cibubur. 

Dan jika kamu membutuhkan penjelasan lebih lanjut, "dalam proses penilaian, kita biasanya menggunakan standar subjektif dan kondisi tertentu. Ketika standar ini dipenuhi, kita akan merasa diri kita kompeten, kuat dan layak untuk mendapatkan hidup yang baik. Sebaliknya, ketika kita memiliki self-esteem yang rendah, kita akan merasa ragu dengan diri kita sendiri, merasa tidak layak, dan tidak berharga," lanjutnya. Dan proses ini bukan satu-kali-lalu-selesai, melainkan terjadi secara berkelanjutan. "Berangkat dari satu situasi ke situasi lain penilaian kita terhadap diri sendiri, dan dapat berubah,” paparnya.

Sementara, self-acceptance memiliki kaitan yang erat dengan "dengan kepuasaan kita terhadap diri kita sendiri. Menerima diri kita berarti memahami siapa diri kita, letak kekuatan serta keterbatasaan kita. Menerima bahwa kita tak selalu tampil baik, bahwa kita sudah berusaha yang terbaik terlepas dari hasil yang kita dapatkan,” ujarnya. 

Intinya: jika self-esteem berarti kamu berpikir tentang betapa hebatnya dirimu terlepas dari realitas yang objektif, sementara self-acceptance berarti mengerti realitas objektif, memberikan izin kepada diri sendiri untuk tidak sempurna, dan terlepas segalanya tetap menganggap diri berharga. 

Dan meski saling terkait, keduanya berbeda. Dalam artian:

  • Self-esteem melibatkan keyakinan dan perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Sedangkan, self-acceptance melibatkan ranah tindakan berupa respons kita terhadap diri kita sendiri.

  • Self-esteem dinilai berdasarkan standar dan kondisi tertentu, berbeda dengan self-acceptance yang terbebas dari penilaian, juga bebas dari syarat dan ketentuan yang berlaku.

Ah, ya.. self-esteem = keyakinan dan perasaan subjektif. Self-acceptance = tindakan/respon yang menerima diri sendiri apa adanya. 

Dan keduanya berbeda, tapi yah... berkaitan. Menurut Irene, salah satu hal yang dapat meningkatkan atau mempertahankan self-esteem diri adalah dengan berlatih menerima diri kita apa adanya (self-acceptance). “Filosopinya berakar dari ketidaksempurnaan yang kita miliki sebagai individu. Kita tidak selalu dapat menjadi yang terbaik dan mengendalikan seluruh hal yang terjadi pada diri kita. Kesulitan menerima diri kita akan membuat kita selalu fokus pada kelemahan dan kekurangan diri. Hal inilah yang pada akhirnya dapat membuat self-esteem kita menjadi rendah atau tidak sehat.”

Namun, di sisi lain—sama seperti prinsip pada banyak hal—self-esteem yang terlalu tinggi, percaya bahwa kita sempurna seperti apa adanya kita, bisa dengan mudah berbelok ke area narsisime, Tasha Eurich, seorang psikolog berargumen di Quartz. Psychology Todaymenuliskan ada garis tipis antara self-esteem yang sehat dan tidak sehat. "Terlalu mencintai diri sendiri... menimbulkan sense of entitlement yang tidak sehat dan ketidakmampuan belajar dari kesalahan. Dan tidak bisa dipungkiri topik tentang self-esteem dan self-love ini "menimbulkan banyak perdebatan, saran dan terkadang teori yang bertentangan," tulis publikasi tersebut. 

Jadi mana yang lebih menjadi fokus? Mempertimbangkan fakta bahwa saat ini banyak psikolog dan sosiolog percaya bahwa kita berada di masa epidemik narsisme dunia modern (salah satu penyebabnya adalah media sosial), yang melahirkan risiko generasi dengan self-esteem terlalu tinggi, empati terlalu rendah dan bisa berbelok cepat ke arah budaya narsisme, Eurich merekomendasikan untuk fokus kepada self-acceptance sebagai cara untuk menemukan kebahagiaan. Dan ini tidak berarti kamu dilarang untuk memiliki self-esteem yang sehat karena, "pilihan lain dari self-esteem yang tidak terbatas bukanlah self-loathing," lanjutnya. 

Eurich mengutip penelitian yang membuktikan bahwa baik self-esteem dan self-acceptance sama pentingnya untuk kebahagiaan dan optimisme, tapi mereka yang memiliki self-acceptance tinggi, "memiliki pandangan yang positif terhadap diri mereka yang tidak tergantung dari validasi eksternal (likes di Facebook atau penghargaan bintang emas)." Pasalnya, "semakin realistis kita dapat melihat diri sendiri, semakin banyak empati dan rahmat yang kita berikan kepada diri kita yang sedang tumbuh berkembang," katanya. 

Kenyataannya, self-acceptance adalah sebuah proses, setiap dari kita berada di titik yang berada saat ini. Dan jika self-acceptance-mu masih perlu ditingkatkan Irene merekomendasikan untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Berilah kelonggaran pada diri untuk menerima ketidaksempurnaan dalam setiap upaya yang kita lakukan.

  2. Tanyakan pada diri kita apa yang membuat diri kita takut dan cobalah untuk melawan ketakutan itu.

  3. Bersahabatlah dengan kegagalan, karena kita jauh lebih banyak belajar dari kegagalan yang kita alami.

  4. Belajar untuk tidak memasukkan kritikan atau kejadian negatif di dalam hati. (Alias, kurangi baperan). 

  5. Hindari untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, apa yang dimiliki atau dicapai oleh orang lain.

Selanjutnya: Apa yang membuatmu merasa perlu membuka ponsel pasanganmu? Benarkah hanya karena iseng, kurang kerjaan? Psikolog ini mengatakan bahwa bisa jadi artinya lebih dari itu—atau tidak.