Wahai Milenial, Apakah Kalian Memang Konsumtif dan Tidak Suka Menabung?

Wahai Milenial, Apakah Kalian Memang Konsumtif dan Tidak Suka Menabung?
ISTOCK

Milenial = boros?

Konon, generasi Milenial (M) berhasil "menulis ulang" berbagai panduan di dunia ini—termasuk dalam hal duit. Misalnya, jika generasi sebelumnya menganggap bahwa menabung untuk hari tua itu penting dan harus dilakukan dari sekarang, kebanyakan generasi milenial enggan melakukannya. Ada sebuah istilah yang diberikan kepada mereka: financial freewheelers. Alias, berjiwa bebas seperti ikan-ikan hiu di laut.t

"Berdasarkan pendapat beberapa karyawan yang bekerja di lingkungan Menara Thamrin [Jakarta] dan lahir di era 70an (generasi X) terdapat perbedaan persepsi atau cara pandang antara generasi Milenial dan generasi X terhadap uang dan keuangan," kata Puspa Sagara, dari bagian Business Development dari Jouska Financial

Dari penelitian kecil-kecilan yang dilakukannya, beberapa orang tersebut berpendapat bahwa generasi Milenial lebih cenderung menganggap uang sebagai alat vital; investasi dan menabung bukan merupakan tujuan utama keuangan mereka. Penyebabnya? "Mungkin karena kemajuan teknologi dan perkembangan informasi yang semakin meningkat," katanya.

Dibandingkan dengan generasi M, beberapa perwakilan X ini mengakui bahwa mereka telah menabung dan berinvestasi sejak dini.

Sementara itu, Aakar Abyassa Fidzuno, CEO dan Pendiri Jouska, berpendapat bahwa uang merupakan sesuatu yang penting dan krusial dan tidak ada perbedaan antara generasi X dan generasi Milenial.

“Uang adalah hal yang penting dan itu tidak kenal usia. Hal ini bisa dilihat dari bahwa bukan hanya generasi Milenial saja yang bekerja dan mengumpulkan pundi Rupiah, akan tetapi masih banyak juga generasi sebelumnya yang tetap bekerja."

Sebagai generasi M, Aakar juga mengakui bahwa memang masih banyak orang yang rentang tahun kelahirannya antara 1983 – 2000 yang belum memiliki budaya menabung. Fakta ini didasari hasil riset dan analisis yang belum lama ini dilakukan oleh Rumah123.com dan Karir.com terhadap 8.510 responden generasi Milenial di Jakarta. 

"Riset ini menunjukkan hanya 17% dari generasi Milenial yang memiliki gaji cukup dan mampu untuk mengambil KPR. Maraknya perkembangan teknologi dan elektronik sekarang ini sehingga banyak e-commerce bermunculan, ditambah kemudahan dalam pengajuan kartu kredit dan fitur m-banking yang tersedia pada bank-bank di Indonesia memudahkan masyarakat untuk berbelanja. Ujung-ujungnya, generasi Milenial ini dipandang sebagai generasi yang lebih konsumtif dan suka menghamburkan uangnya dibandingkan dengan generasi X," paparnya. 

Akbar mencoba membandingkan masa lalu (pra jaman keemasan kartu kredit), "untuk berbelanja masyarakat harus pergi ke mal dan dalam mengajukan kartu kredit juga dibutuhkan proses yang berbelit dan tidak sebentar. Maraknya brand fashion, elektronik dan tingkat lifestyle yang semakin meningkat juga menjadi salah satu faktor pendukung masyarakat, khususnya generasi Milenial untuk berbelanja. Di kota-kota besar seperti Jakarta, semakin tingginya salary yang dihasilkan oleh Milenial, maka akan semakin tinggi juga gaya hidup atau lifestyle yang harus dipenuhi," paparnya panjang lebar. 

Menurut Puspa, bahkan ada salah seorang responden yang lahir pada tahun 70an berkomentar: "Demi mengangkat gengsi anak jaman sekarang rela ngebela-belaiin entah itu melalui cicilan atau utang atau apapun."