Laura Dinda: 'Sempat Tidak Mau Latihan Karena Belum Bisa Menerima Label Difabel'

Laura Dinda: Sempat Tidak Mau Latihan Karena Belum Bisa Menerima Label Difabel
WOOP.ID

Atlet renang paralimpik ini bercerita tentang pergulatannya dengan bunuh diri, status difabel dan frustrasi dengan lift.

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti baru saja selesai menghadiri upacara penurunan bendera dan, "lumayan capek sih," katanya dengan suara mengantuk sambil menyandarkan badan di kepala tempat tidur, menarik selimut putih sampai ke pinggang. Kami bertemu di kamar hotelnya di Jakarta, hari itu Laura dan sang ibu, Jeanne D’arc Ni Wajan Luh Mahendra terbang dari Solo untuk menghadiri perhelatan 17 Agustusan itu. "Lebih eksklusif ketika pertama kali datang ke istana dan ketemu Pak Presiden [Joko Widodo]," katanya lagi. "Ini biasa saja, yah mungkin karena banyak orang, kayak merasa rakyat biasa," ujarnya, tersenyum kecil sambil meletakkan bantal putih di atas pangkuannya

Kamu mungkin belum pernah mendengar namanya—dan sepertinya ini saat yang tepat mengubah status tersebut. Laura, atau "Dinda, terserah sih, mau manggil gimana," katanya adalah seorang atlet cabang olahraga renang. Memulai berenang sejak SD, menggelutinya dengan serius, berharap menjadi perenang nasional meski sebenarnya, "target saya, cuma renang sampai kuliah, dan saya setelah itu mau fokus kuliah," Laura mengakui. "Nggak ada target muluk-muluk sampai ke internasional, nggak ada sama sekali. Yah, memang dari awal yah itu, supaya bisa masuk universitas melalui jalur prestasi ke universitas yang saya inginkan," tambahnya blak-blakan. 

Lalu nasib atau semesta atau takdir atau apa punlah namanya mengambil alih. Tepatnya pada satu hari di tahun 2015, saat berusia 16 tahun, Laura terpleset di kamar mandi, dengan bagian bokong mendarat terlebih dahulu di lantai. "Sakit sih, tapi yah udah. Saya nangis tapi cuma sebentar kok," kenangnya. Satu bulan kemudian, saat menunduk hendak meraih handphone, pinggang terasa sakit, dan tidak bisa berjalan. Hari ketujuh setelahnya divonis tulang belakangnya patah, hari ke-9 dioperasi (Laura menunjukkan bekas operasi di punggungnya, tapi karena saya bukan penggemar darah dan luka—rasanya cukup jika dikatakan bahwa titik-titik manifestasi dari 52 jahitan itu membuat saya mendadak pusing dan mual), dan hari ke-13, "pulang dari rumah sakit." 

Dan apakah dunia terasa runtuh ketika dokter memvonis bahwa dia tidak akan bisa jalan? "Oh, nggak," katanya menggerakkan telapak tangan, menirukan nada suara khas ABG yang merasa diri kebal akan segala sesuatu, tidak akan pernah terluka (kita yang pernah ABG pasti tahu nada suara ini). "Masih mikir ‘ini kayaknya dokter salah diagnosa, deh,'" ujarnya dengan ekspresi 'ah, lo sok tahu'. 

Satu bulan berlalu, Laura tidak bisa duduk, tidak bisa jalan. Bulan keenam, setelah melalui puluhan sesi terapi, sang fisioterapis mengatakan bahwa dia tidak akan kembali seperti semula; kakinya akan bisa digerakkan, duduk sudah lebih memungkinkan, tapi kekuatan akan tetap berada jauh di bawah orang normal.

"Akhirnya, yang saya rasakan cuma marah," tekannya. "Karena menurut saya, itu waktu yang sudah cukup banget untuk recovery dan kenapa saya nggak bisa? Logika saya, dua minggu okelah, mungkin karena lukanya belum kering. Kita nggak tahu, ya—maksudnya proses penyembuhan orang beda-beda. Namun, kalau sudah sebulan saya tetap nggak bisa ngapain-ngapain, saya kayak 'kenapa ini bisa terjadi?'" ujarnya dengan kening berkerut, emosi, intonasi sedikit meninggi dan nada putus saya. Ibaratnya saat itu, "saya disenggol sedikit bisa langsung marah," akunya. Termasuk, saat melihat Instagram dan melihat teman-teman sekolahnya ke kafe, ke gunung, ke pantai, dan mal. Itu, plus komentar-komentar "men-judge, dan dengan cara mengeluarkan statement" semacam "ayo, kamu bisa ini, kamu bisa itu" atau, "ayo belajar jalan" atau "kok udah nggak terapi lagi toh?" yang benar-benar membuat emosinya semakin, "ah, f*ck off deh, pokoknya," katanya dengan nada putus asa.

Waktu saya menanyakan tentang kemungkinan meminta pertolongan dengan seorang psikolog, misalnya, Laura lagi-lagi menggelengkan kepala. "Oh, saya nggak mau," katanya dengan ekspresi emosi dan nada suara ala ABG tadi. "Karena saya sedang marah," tekannya dengan intonasi tinggi. "Saya pengennya… kayak, 'yah udah, tinggalkan gue sendiri'. Saya merasa psikolog pun nggak bisa merasakan kondisi saya. Saya butuhnya dokter yang bisa menyembuhkan saya, saya nggak butuh kejiwaan—saya butuhnya dokter yang secara fisik bisa menyembuhkan saya. Saya pengen sembuh," bebernya. Sesuatu yang agak ironis, karena mengingat sekarang Laura adalah seorang mahasiswa Psikologi Universitas Gajah Mada. Dia terbahak. "Makanya nanti saya ingin mendalami depresi dan klinis," katanya.

"Pokoknya waktu itu saya sedang marah banget, marah sama Tuhan, sama Mama, sama siapa pun," tegasnya. 

Kulminasinya adalah ketika Laura mencoba bunuh diri. Tanpa perlu menggambarkan detailnya, yang pasti saat itu yang ada di benaknya adalah, "mau ngapain lagi?" katanya dengan suara tinggi dan emosional. "Karena dunia atlet di normal itu aja kejam banget. Istilahnya segala sesuatu sudah saya korbankan buat bisa meraih prestasi di bidang renang secara normal dan begitu itu diambil, [saya berpikir] 'jadi selama ini gue kayak gitu itu tuh, buat apa?' Itu yang bikin saya, yah sudahlah, f**k off!" katanya dengan lirih, sambil mengibaskan tangan. 

Singkat kata, usaha bunuh diri itu gagal.

Laura terdiam sebentar, merapikan posisi selimut, rambut dan kacamatanya. "Pernah melihat 13 Reasons Why, nggak?" tanyanya. Saya mengangguk. Serial TV tentang seorang remaja yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri—yang menuai pujian karena mengangkat tema kesehatan mental sekaligus dikritisi karena visual yang terlalu grafis. "Saya melihat bahwa cobaan orang itu beda-beda, tergantung yaitu … "(tiba-tiba sang Ibu memotong, "kamu pinter ya, ngomongnya sekarang?" dengan suara takjub, dan Laura terkekeh geli.)

".... support dari teman, keluarga—support Mama sih kencang banget, sabar banget dia," lanjutnya dengan wajah serius. ("Iya, padahal pengen aku pites," imbuh sang Ibu dengan logat Jawa; keduanya tertawa geli. "Gimana cara kita melihat sesuatu, perspektifnya apa. Kalau memutuskan melihatnya dari perspektif sebagai korban, yah udah, kamu nggak akan bisa maju, karena kamu memposisikan dirimu sebagai pihak yang lemah, gitu lho. Kalau misalnya kamu memposisikan dirimu sebagai pihak yang mengatur kehidupanmu, kamu akan bisa bisa menjalani itu. Tuhan itu akan memberikan jalan—itulah istilahnya. Kamu memilih ini, akhirnya ke mana; memilih itu, akhirnya ke mana. Dan kalau misalnya, kamu mengikuti jalan Tuhan yang benar, akhirnya—menurut saya—akan bagus-bagus aja," tegasnya. (P.S: Yeah, seandainya kamu penasaran: dari sofa, sang Ibu menatap dengan pandangan terpana, dan kemungkinan besar, bangga.)

Beberapa kali Laura menyebutkan "Tuhan"—apakah menjadi seorang yang religius membantu keluar hidup-hidup dari kondisi seperti itu?

Terbahak, lalu Laura berujar, "saya percaya sama Tuhan, tapi nggak sereligus itu, apa pun definisi religius itu." Menarik nafas, "tapi yah, sangat membantu. Membantu," ulangnya lagi. "Karena kamu percaya sama sesuatu yang lebih besar," tegasnya. 

img

April 2016—sudah kembali ke sekolah("meski kalau sudah nggak kuat lagi, saya ke UKS dan belajar di sana")—Laura bertemu seorang pelatih baru. Sudah bisa duduk, kaki bisa bergerak sedikit, dan mampu jalan meski terbatas. Mulai latihan berenang lagi. "Susah, berat banget. Nangis-nangis, kok. Apalagi selama ini saya tuh bagusnya di kaki, sekarang harus mengandalkan tangan," tuturnya. ("Makanya, saya sering bilang, "kenapa bukan tanganku?") Untuk menjadi atlet difabel. Sebuah label baru, dan problematik, baginya.

"Satu kali nyoba berenang, tiga minggu saya nggak mau latihan. Karena saya masih berpikir, 'masa sih, gue difabel?' Saya masih belum bisa menerima kalau saya tuh sekarang dikategorikan sebagai difabel, masih berharap bisa berenang secara normal."

Ah, label—"Yah, labelling itu sangat berat karena pandangan orang, hm... apa ya," katanya terdiam sejenak, "istilahnya, begitu kita menyebut nama difabel, itu yang dipikirkan orang itu adalah orang yang tidak berpendidikan, orang yang istilahnya datang dari keluarga nggak benar, orang bodoh—pokoknya orang yang dianggap rendah. Padahal tidak benar, tapi begitu asumsi umum," argumennya.

"Saya jujur, waktu itu nggak ada rasa itu," selanya dengan cepat sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah. "Namun begitu saya dikategorikan sebagai difabel, rasa itu baru muncul. Gitu, karena ketika saya melihat pandangan orang saat saya berada di kursi roda, rasanya seperti itu."

Menurut Laura, ada tiga jenis pandangan orang ketika melihatnya bermobilitas dan beraktivitas di atas kursi roda: pandangan aneh, pandangan tidak suka, dan pandangan kasihan. "Saya paling tidak suka dipandang kasihan—dua lainnya, saya tidak masalah." ("Saya juga paling sebel ketika toilet difabel dipakai oleh mereka yang non-difabel tanpa alasan yang jelas, dan ketika tersedia eskalator, mereka tetap memakai lift sehingga selalu penuh dan saya harus mengantri sampai empat kali untuk bisa masuk.")

HALAMAN
12