Food Review: Twin House, Fatmawati

Food Review: Twin House, Fatmawati
WOOP.ID
Food Review: Twin House, Fatmawati

Hygge? Mungkin. Instagrammable? 1001%. Rasanya seperti sedang relaksasi di hutan penuh dengan oksigen segar.

Rating
  • overall

Lokasi: Cipete Raya No. 4B, Cilandak, Jakarta Selatan

Harga: Rp. 200.000 berdua (makan plus minum)

Ada kalanya datang ke sebuah restoran, kita langsung merasa terintimidasi, bukan karena nama-nama makanan yang aneh dan Asulit dieja, tapi karena porsinya terlalu banyak atau sebaliknya, hanya kenyang bagi perut seekor marmut. Untungnya, hal ini tidak WOOP alami saya mencoba makanan yang disajikan diTwin House. Bahkan, jika ada perdebatan tentang “betapa bedanya porsi makan laki-laki dan perempuan” (tidak peduli jika naratif ini terdengar seksis), restoran ini akan berhasil memadamkan semua argumen dan akan mengalihkan perhatian kita untuk langsung, “makan aja, ah.”

Berbeda dengan kebanyakan gerai kuliner yang memilih berada persis di tepi jalan raya, untuk mencapai dua bangunannya kita harus masuk ke dalam gang dan akhirnya bertemu dengan dua rumah kembar (namanya terinspirasi dari pemilik yang memiliki anak kembar), dinding bercat putih, pintu kuning, colorful throw pillows, dan… halaman hijau yang luas. Sesuatu yang langka di Jakarta, terutama di area panas seperti Cilandak. Dan halaman hijau itu tidak penuh dengan pernak-pernik yang kadang-kadang tidak perlu dan ‘maksa (pajangan mobil-mobil bekas di halaman, untuk apa, sih?) Luasnya dimanfaatkan secara optimal untuk duduk manis dan menikmati kudapan dari dapur Twin House. *Syarat dan ketentuan berlaku: tidak hujan atau terlalu panas, karena tanpa atap atau payung. Namun, jika cuaca seperti saat WOOP datang—tidak panas, tidak dingin (kapan sih, Jakarta dingin), agak berangin sepoi-sepoi—rasanya seperti sedang relaksasi di hutan penuh dengan oksigen segar.

Meski namanya “rumah kembar”, dua rumah ini menggabungkan dua konsep yang cukup berbeda. Keduanya memang menganut satu prinsip dekorasi, yakni Skandinavia: tenang, minimalis, warna-warna kalem, tumpukan buku, material halus, pernak-pernik unik tapi tidak membuat sesak nafas karena terlalu banyak. Hygge? Mungkin. Instagrammable? 1001%. Namun, rumah yang lebih tua (terlahir 3 tahun yang lalu) lebih bersuasana restoran, satu meja kayu terpisah dengan meja lain dalam jarak yang lebar sehingga memberikan privasi kepada tamu untuk membicarakan masalah/gosip pribadi mereka. Rumah yang lebih tua (lahir bulan Mei lalu) lebih berkonsep coffee shop: sebuah meja kayu panjang untuk berbagi di antara 10 tamu mendominasi, dengan beberapa meja kecil untuk berdua di sudut lain. Persis di sebelahnya, ruang khusus untuk pecinta rokok. Hari itu, rumah kedua ini dipenuhi dengan demografik lebih muda dibandingkan rumah pertama. 

Now let’s talk about the food. WOOP mencicipi dua makanan favorit di menu: angel hair with aburi salmon dan nasi kebon with curry chicken katsu. Untuk yang pertama, mungkin agak "eh", karena siapapun akan berhenti makan bila mendapati sehelai rambut di piring. Bahkan jika rambut malaikat sekalipun. No way, Jose.  Namun, seperti yang dikatakan bahwa don't judge food by its name, karena rasanya benar-benar sedap. Ini pasta vermicelli dengan irisan aburi salmon, shimaji (jamur), dan ikan asin kering. Rasanya asin dan gurih, dan meski tidak pedas (rasa yang disukai banyak orang Indonesia), entah kenapa tangan kami tidak mencari-cari saus atau... sambal matah. Makanan kedua, chicken katsu dengan taburan saus kari dan sekilas nasi tidak terlihat karena jumlah potongannya memang tidak setengah hati. Rasanya, gurih, sedap, enak, dan tidak pedas. (Baik untuk perut.)

Minumannya pun tidak mengecewakan, terutama signature drink-nya, kopi nakula. Di kertas menu digambarkan: potongan es kopi dengan susu rasa hazelnut. Saat melihat satu gelas panjang susu yang disediakan dan di gelas satunya adalah bongkahan kecil es berwarna coklat, jujur WOOP agak skeptis. Sepertinya ini akan menjadi salah satu kejadian "minum susu dengan kopi." Dan saat keduanya digabungkan dan diminum, WOOP meminta maaf karena sudah sinis. Rasanya enak, segar, kopinya tidak terlalu berat, tidak juga ringan atau ternodai oleh susu. Cobalah.