6 Alasan Perempuan Kenapa Sulit Pisah Walau Jadi Korban KDRT

6 Alasan Perempuan Kenapa Sulit Pisah Walau Jadi Korban KDRT
iStock

Kenapa perempuan sulit meninggalkan pasangan yang sudah kasar dengannya? Woop mencoba menjawab.

Pernahkah kamu mendengar temanmu mendapat perlakuan kasar dari kekasih? Atau bahkan menjadi korban KDRT? Meski demikian, apa temanmu tidak juga meninggalkan pasangannya sehingga membuatmu merasa ‘gemas’?

img

Terkadang kamu mungkin berpikir apa sulitnya memutuskan hubungan dengan pasangan ‘beracun’. Namun kenyataannya mungkin jauh lebih rumit. Berikut beberapa alasan mengapa perempuan merasa sulit untuk meninggalkan pasangannya yang kasar dalam suatu hubungan.

Menurut psikolog Rachana Awatramani, masa lalu korban KDRT mungkin bisa menjadi penyebabnya atau norma sosial.

"Mungkin ada beberapa alasan yang membuat orang menderita ketika pasangan selalu kasar. Salah satunya hubungan seperti apa yang pernah dialami oleh korban selama masa kecilnya dan tekanan untuk mematuhi norma-norma sosial. Saya pernah memiliki kasus di mana korban menjadi nyaman dengan hubungan ‘beracunnya’. Suami yang pecandu alkohol memukulinya setiap malam dan dia menerima situasi berpikir itu normal. Namun ketika mencoba keluar dari hubungan, dia mulai ragu telah memiliki perselingkuhan padahal bukan itu masalahnya,” jelas Rachana seperti dilansir dari Times of India.

Lalu apa yang alasan para perempuan korban KDRT untuk tetap bertahan?

  • Harapan Pasangan Berubah

Cinta itu buta—yap mungkin ada benarnya. Terkadang, orang-orang terus berada dalam hubungan yang tidak sehat berharap pasangan mereka akan berubah suatu hari nanti. Mereka gagal memahami kalau sifat dasar seseorang tidak akan pernah berubah.

img

  • Ekonomi

Dalam banyak situasi, korban secara finansial bergantung pada pasangan. Rasa takut tidak memiliki cukup uang, keamanan, atau tempat tinggal, memaksanya untuk tetap berada dalam hubungan yang tidak sehat. Meski ia harus menerima dipukuli setiap hari.

  • Tekanan Sosial dan Keluarga

Sebagian masyarakat kita masih meyakini stereotip tradisional dan mengharapkan seseorang atau pasangan untuk tetap bersama meskipun ‘kerusakan’ terjadi dalam pernikahan. Jika tidak, mereka akan takut dihakimi oleh teman dan keluarga. Belum lagi merasa malu untuk mengakui masalah mereka daripada berani buka suara.

  • Harga Diri Rendah

Terkadang, pelecehan emosional membuat harga diri korban menjadi rendah. Ini yang membuat perempuan takut risiko yang akan terjadi jika dia meninggalkan pasangan. Situasi menjadi lebih rumit ketika pasangan memiliki anak dan korban memilih untuk tetap dalam hubungan untuk memberi mereka masa kecil yang 'normal' (padahal sebenarnya sudah tercemar).

  • Merasa Bersalah

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik. Terkadang, pasangan pelaku kekerasan menyalahkan korban atas perilaku ‘beracun’ mereka atau menipu perempuan untuk meyakini bahwa kamu yang bertanggung jawab atas semua keributan. Pada gilirannya, korban akhirnya percaya bahwa mereka layak disiksa karena bersalah.

  • Salah Persepsi Sejak Kecil