Thursday, 12 April 2018

Jadi, Apakah Mainan Terbaik untuk Anak?

img detail
ISTOCK

Pistol atau senjata plastik, apakah direkomendasikan?

Apa mainan yang paling sering dimainkan oleh buah hatimu di rumah—maksudnya, selain ponsel. Apakah boneka untuk perempuan, dan mobil-mobilan atau senjata perang-perangan untuk laki-laki? Atau sebaliknya? Atau, atau, kamu melarang anakmu memegang pistol atau pedang plastik itu? 

“Permainan yang berbentuk senjata, pedang dan lainnya, biasanya digunakan anak laki-laki untuk bermain dengan tema perang atau melawan kejahatan. Anak biasanya juga menampilkan perilaku agresif seperti menodongkan senjata, memukul, menendang, dan sebagainya. Hal itulah yang sepertinya membuat banyak orangtua dan guru merasa khawatir untuk mengijinkan anak bermain permainan tersebut. Padahal, permainan tersebut pun memiliki keuntungan bagi perkembangan anak, tentunya dengan pengawasan orangtua dan guru,” kata Aisyah Ibadi, M. Psi., Psikolog, seorang psikolog anak.

"Perlu diingat bahwa permainan adalah permainan," tegasnya. "Berbeda dengan perilaku agresif yang serius, perilaku agresif ditampilkan anak adalah terkait dengan peran-peran yang dibawakan, yakni sesuai cerita permainan yang mereka buat, misalnya peran polisi, superhero dan sebagainya. Sementara perilaku agresif yang serius adalah perilaku sengaja untuk menyakiti orang lainya." Oleh karena itu, menurut Aisyah, ketika mengawasi anak bermain, orangtua/ guru harus menekankan bahwa dalam permainan tidak boleh menyakiti/melukai teman bermainnya serta memastikan benda yang dipakai aman, tidak tajam, mudah pecah atau berpotensi melukai anak. "Bermain dengan tema tersebut memiliki beberapa keuntungan bagi perkembangan kognitif dan sosial anak," ujarnya mengingatkan. 

Aisyah mengutip perkataan Laura E. Berk, seorang penulis buku Child Development bahwa ada beberapa penelitian yang menunjukkan sisi positif perperkembangan kognitif dan sosial seorang anak. “Keuntungan yang didapatkan antara lain belajar bekerja sama, strategi, kontrol diri serta belajar memahami perasaan orang lain dengan lebih baik. Misalnya  ketika mereka berperan menjadi pahlawan yang bertugas melindungi warga dari kejahatan," jelasnya. 

Seorang psikolog anak dari Tiga Generasi, Mayang Gita Mardian, M.Psi., Psikolog, juga menambahkan, “terutama untuk anak-anak di bawah usia 4 tahun, penggunaan senjata mainan tidak disarankan. Hal ini karena anak-anak masih belum sepenuhnya mampu membedakan yang nyata dan tidak. Memberikan penjelasan mengenai mainan tersebut pun akan lebih sulit dilakukan pada anak usia dini, karena kemampuan kognitifnya yang masih belum memadai. Senjata mainan yang diberikan pun sebaiknya memang yang benar-benar tampak, seperti pistol air berwarna, pedang dari foam, dan lainnya sehingga membantu anak membedakan mana yang mainan dan nyata.”

Namanya anak, sedang masa pertumbuhan, energinya pasti selalu berlimpah (terkecuali saat sudah mengantuk). Tidak heran jika mereka mencari permainan yang seru, aktif, dan kalau bisa melibatkan tokoh favoritnya. Jadi, permainan seperti apa yang tepat diberikan kepada anak, khususnya anak laki-laki?

“Permainan yang dibutuhkan oleh anak, berlaku untuk anak lelaki dan perempuan, adalah permainan yang sesuai dengan tahap perkembangan serta menstimulasi perkembangan fisik, kognitif, sosial dan emosi anak. Misalnya, bermain peran bagi anak usia 2 tahun ke atas, akan membantu mengembangkan kemampuan kognitif (berimajinasi, menambah kosakata), dan sosialnya (berinteraksi, bekerjasama dengan teman main). Pada dasarnya, secara teori tidak ada batasan gender mengenai jenis permainan yang harus dimainkan,” jelas Aisyah.

Dengan kata lain, segala jenis permainan yang diberikan harus memiliki fungsi yang bisa membantu perkembangan anak. Aisyah juga menyebutkan bahwa saat bermain dengan 'senjata' mainan, orangtua harus memberikan batas waktu, selain itu juga harus diselingi kegiatan lainnya. “Prinsip dasar mengatur kegiatan anak adalah semakin beragam kegiatannya, berarti semakin kaya stimulasi untuk perkembangan anak. Anak yang diberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi hal yang beragam tentu lebih optimal perkembangannya. Permainan dengan senjata ini hanyalah satu dari sekian banyak alternatif kegiatan yang memiliki manfaat bagi anak.”

Namun, banyak orangtua, guru, atau para ahli yang memperdebatkan tentang efek senjata mainan terhadap perkembangan anak. Mereka khawatir bahwa bermain dengan senjata mainan akan mengarahkan anak pada perilaku agresif di kemudian hari, atau penggunaan senjata akan menjadi kebiasaan hingga dewasa. (Bahkan, presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru menuduh video game penyebab seseorang menjadi ekstremis.)

"Sebenarnya, penggunaan senjata mainan bergantung kepada peran orang dewasa di sekitar anak yang perlu memberikan pengawasan ketika anak bermain apapun, bukan hanya bermain senjata mainan," kata Mayang. "Orangtua perlu mengamati bagaimana perilaku bermain anak. Bila anak menunjukkan perilaku agresif yang nyata saat bermain, di mana ia benar-benar memukul, menendang, mendorong, dan perilaku menyakiti lainnya dengan sengaja pada teman bermainnya, hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus. Berikan peringatan, penjelasan, dan jika perlu konsekuensi atas tindakannya tersebut, terutama jika perilaku terus bertahan meski telah diberi solusi oleh orangtua.”

Selain itu, “orangtua memiliki keleluasaan untuk menghentikan permainan, atau tidak lagi memberikan senjata mainan bila anak menunjukkan perilaku menyakiti. Namun, bila anak memainkan senjata mainan dalam tema pahlawan super, profesi dengan budi luhur seperti polisi atau tentara, atau peran-peran lain yang menjadikannya orang dengan nilai-nilai baik, berilah penghargaan dan kembali tekankan bahwa senjata mainan ini hanya digunakan untuk bermain, bukan di dunia nyata. Jelaskan bahwa senjata nyata dapat melukai orang lain, dan hal itu tidak baik, bahkan bisa dikenakan hukuman. Jika anak menampilkan perilaku agresif secara konsisten, orangtua dapat menghubungi psikolog atau ahli lain untuk berkonsultasi,” sambungnya.

Menurut Mayang, senjata mainan bukanlah satu-satunya alat permainan yang dapat dimainkan oleh anak. Orangtua juga harus berperan menemukan alasan mengapa anak tidak boleh lagi diberikan senjata mainan. “Berikan anak penjelasan terhadap alasan tersebut, misal karena anak selalu berusaha menyakiti temannya, atau karena anak selalu merusak barang-barang di sekitarnya, dan sebagainya. Sebagai alternatif, berikan anak variasi mainan lain secara perlahan, untuk bermain seperti permainan kejar tangkap, permainan lempar bola/ frisbee, atau bermain peran pahlawan tanpa senjata mainan,” tegasnya.

 

MORE ARTICLES


MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR