Hati-hati! Hal Ini Menandakan Hubunganmu Akan Segera Berakhir

Hati-hati! Hal Ini Menandakan Hubunganmu Segera Berakhir
ISTOCK

Apakah komunikasimu dengan pasangan mulai memburuk? Atau sering mengalami pertengakaran? Hal itu bisa jadi tanda hubungan akan berakhir.

Jaman dulu sebuah lagu dangdut berjudul 'Gula Jawa Rasa Cokelat'—intinya, kalau sedang lagi jatuh cinta apapun dilakukan dan segalanya terlihat manis. Apalagi jika umur hubungannya masih baru banget, sama sekali tidak membutuhkan Snapseed, semua jerawat pasangan tidak terlihat.

Namun lain ceritanya ketika putus—kekurangan dan kesalahan tetap terlihat jelas bahkan teknologi Snapseed, plus VSCO dan Filterstorm Neue yang digunakan bersamaan tidak cukup canggih untuk menutupinya. Dan jika mau jujur, sebenarnya isu-isu yang membuat kalian berdua mustahil menuju ke arah serius sudah terlihat saat masih pacaran, tapi karena yah... masih baru dan bergelora, kamu berusaha sekuat tenaga dan memberikan banyak waktu untuk membuat hubungan tersebut berhasil—padahal banyak tanda-tanda spesifik, bendera merah yang berkibar sepanjang tikungan yang menyiratkan bahwa kalian berdua akan putus, alias tinggal menunggu waktu saja. 

"Bendera merah tanda bahaya merupakan sebuah simbol intuisi yang tepat untuk membantumu memproses apa yang sebenarnya kamu rasakan," jelas Abigail Brenner, M.D., seorang psikiatris dan anggota Fellow of the American Psychiatric Association di Psychology Today. "Pada akhir sebuah hubungan, orang seringkali berkata, "Dia mengatakan kepada saya orang seperti apa dirinya dari awal, tapi saya tidak mendengarkan.'"

Sementara Jill Weber, Ph.D., seorang psikolog klinis dan penulis buku Breaking Up & Divorce and Having Sex, Wanting Intimacy, mengingatkan agar kita waspada terhadap bendera merah tersebut saat menjalin hubungan dengan seseorang. "Meskipun memang hubungan tidak perlu sempurna, kamu perlu mencermati pola-pola dan tren yang mengganggu selama waktu tersebut," ujarnya di Psychology Today. "Bukanlah sesuatu yang aneh orang-orang menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dengan seseorang, dan selama waktu tersebut merasakan bahwa sebenarnya hubungan tersebut tidak sehat."

Lantas bagaimana menghindari hal tersebut terjadi—menyiakan-nyiakan waktu bertahun-tahun untuk seseorang yang sebenarnya tidak tepat untukmu? Coba kenali tanda-tandanya. 

Komunikasi sangat minim

"Ketika mendiskusikan tentang harimu, keinginan seksualmu, harapan masa depan, atau bahkan mimpi liburan, dapatkah kamu dan pasanganmu mengekspresikan diri secara mutual?" ujar Weber. Perhatikan: jika pasanganmu berusaha untuk menepiskan kekhawatiran atau buru-buru mengganti topik ketika percakapan menjadi serius, ini sebuah pertanda negatif. "Saya mendapati bahwa ketika hubungan tersebut baik, sejak awal para pasangan cenderung mudah terbuka," ujarnya. "Bisa jadi kamu tidak ingin langsung membagikan rahasia terdalammu, tapi seharusnya ada perasaan senang dan antusias dari kedua belah pihak untuk berbagi dan belajar tentang diri masing-masing." 

Sementara Brenner mengingatkan kita untuk awas terhadap seseorang yang enggan membicarakan masalah atau mengekspresikan perasaan mereka. "Terkadang, waktu paling penting untuk terbuka dan jujur, mereka malah menjauhkan diri secara emosional, membuat pasangannya terkatung-katung, atau menyelesaikan masalah tersebut sendiri," Benner menggambarkan. Alih-alih mengutarakan emosi negatif secara verbal, orang tersebut malah menjadi moody atau mendiamkan pasangannya.

Sulit sekali menjadi diri sendiri

Weber mengungkapkan bahwa salah satu hal yang paling menyenangkan dari hubungan yang sudah berumur tahunan adalah memiliki seseorang yang mengenalmu luar dalam–tapi tetap saja cinta. "Perhatikan, apakah kamu berpura-pura di depan pasanganmu, atau saat bersama mereka kamu merasa harus selalu mengatakan atau melakukan hal yang benar," sarannya. "Juga waspadai apakah pasanganmu bisa menjadi dirinya saat bersamamu." Kenyamanan tanpa dipaksakan sangat diperlukan untuk menciptakan sebuah ikatan yang akan tetap ada bahkan ketika gairah sudah berkurang, dan inilah yang "memungkinkan pasangan bertingkah konyol, spontan, sensual, dan lebih nyaman saat mengambil resiko dan tantangan baru," Weber mengingatkan.

Terlalu mengontrol

Jika pasangan berusaha memisahkanmu dengan orang-orang terdekat lainnya, seperti keluarga atau temanmu, bisa dipastikan ini merupakan sinyal berbahaya. Menurut Brenner pasanganmu seharusnya tidak mengatur kemana kamu boleh boleh, siapa yang boleh kamu temani, atau membatasi  duniamu dengan hal-hal yang hanya menguntungkan mereka. Dan patut hati-hati jika pasanganmu memintamu untuk memilih 'dia atau saya' dengan mengatasnamakan cinta.

Harapan yang berbeda

Memiiliki ketertarikan atau bahkan sudut pandang yang berbeda memang bisa membuat hubungan kalian tidak membosankan. Akan tetapi Weber mengingatkan bahwa untuk hal-hal yang bersifat jangka panjang dan bagaimana kamu ingin menjalani hidup, kamu dan pasanganmu sebaiknya memiliki visi yang sama. Dia menyarankan untuk mendiskusikan masa depan bersama dan memperhatikan apa persamaan dan perbedaan kalian. Lalu, tanggapi ucapan mereka dengan serius dan jangan berpikir bahwa kamu bisa mengubah atau memanipulasi mereka untuk setuju dengan apa yang mereka tidak mau seperti tentang keinginan punya anak, aktivitas, atau memilih tempat tinggal. "Setiap orang berbeda," Weber mengingatkan. "Dan seiring berjalannya waktu, perbedaan-perbedaan mendasar seperti ini bisa menjadi halangan besar mencapai kebahagian."

Keluarga dan teman tidak setuju

"Jika ada sesuatu yang 'aneh' tentang orang ini yang bisa dilihat oleh-oleh orang-orang yang sudah mengenalmu dengan sangat baik, sebaiknya dengarkan mereka," saran Brenner. Dia memahami bahwa seringkali ketika baru menjalin sebuah hubungan, kita defensif jika ada yang mengkritisi pasangan kita. Akan tetapi, terkadang perspektif dari orang ketiga yang dibutuhkan. Meskipun memang sebuah hubungan seharusnya tidak disetir oleh teman atau anggota keluarga, tapi Brenner mengingatkan bahwa tidak ada salahnya mendengarkan pendapat mereka.

Kurang rasa percaya

"Ketika seseorang sulit jujur pada dirinya sendiri, kemungkinan besar akan sulit bagi mereka untuk jujur kepadamu," Brenner menuliskan. Meskipun memang ini bisa jadi murni karena kebiasaan atau masih dalam proses belajar, sama sekali tidak ada maksud jahat atau agenda terselubung, tapi tetap saja harus diwaspadai. "Seseorang yang tidak bertanggung jawab atas tindakannya biasanya kurang memiliki integritas dan respek terhadap pasangannya."