Tipe Hubungan Cinta Seperti Ini Justru Merusak Mental

Tipe Hubungan Cinta Seperti Ini Justru Merusak Mental
ISTOCK

Saatnya melakukan conscious uncoupling. Berhati-hatilah dalam menjalin hubungan, karena bisa jadi hal itu justru merusak mental

Siapa yang pernah atau sedang mengalami plot ini dalam kehidupan cintanya: putus, nyambung, putus, menyambung lagi—persis seperti cerita di TV, film, dan novel favoritmu? Sungguh dramatis, dan tidak romantis, benar 'kan? Bahkan, ilmu pengetahuan setuju. Sebuah penelitian baru yang dilakukan di University of Missouri-Columbia menemukan bahwa pola putus-nyambung seperti itu bisa membahayakan kesehatan mental seseorang. 

Para peneliti mengamati peranan "siklus putus-nyambung" terhadap kesedihan psikologis pada hubungan baik berbeda maupun sama jenis kelamin. Dengan menganalisa lebih dari 500 individual yang telah putus hubungan, mereka menemukan asosiasi antara siklus hubungan putus-nyambung dengan gejala-gejala kesedihan psikologis seperti cemas berlebih dan depresi. 

Meski memang jelas bahwa hubungan baikan-putus-baikan-putus ini tidak baik untuk fisik dan pikiranmu, bukan berarti diharamkan untuk balikkan dengan mantan. Terutama jika kamu memiliki hubungan putus-nyambung yang masuk ke dalam kategori bernama "capitalized-on-transition," tulis Theresa E. DiDonato, Ph.D, seorang psikolog dan associate professor di Loyola University Maryland. 

Artinya, kamu dan pasangan mempergunakan waktu putus sebagai kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sehingga ketika kembali bersama, hubungan kalian lebih sehat. Sebaliknya, jika setiap kali kamu putus, lalu menyambung, dan terjadi berkali-kali, dengan disertai harapan dan ekspektasi terlalu tinggi—disebut tipe gradual separation—kemungkinan besar hubunganmu sudah tidak sehat. 

Namun, mengapa banyak orang melakukannya? Yep, kamu tidak sendirian: sebuah penelitian bahwa putus-nyambung-putus-nyambung-putus-nyambung merupakan sesuatu yang sering terjadi pada orang dewasa. Jadi, bukan sesuatu yang langka. 

James Preece, seorang ahli hubungan, mengatakan bahwa pihak yang lebih serius, lebih cinta, dan lebih berinvestasi dalam sebuah hubungan akan berusaha mentoleransi ketidakstabilan pasangannya karena "mereka tidak ingin kehilangan pasangannya." Jika kondisi yang sama terus terjadi, Preece berpendapat hal itu akan mempengaruhi rasa percaya diri, akibatnya hubungan dipenuhi rasa cemburu, cemas dan akhirnya depresi. 

Oh, ada beberapa kemungkinan lagi kenapa kita memutuskan kembali dengan mantan: "masih ada perasaan yang tertinggal, percaya bahwa dia adalah 'pasangan yang ditakdirkan untuk kita, atau rindu punya pasangan," tulis DiDonato. 

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mayoritas ahli setuju bahwa salah satu cara terbaik adalah kedua pihak mengobrol dengan jujur, terus terang tentang A sampai Z, tentang harapan dan kebutuhan, mengenai apa yang salah di masa lalu dan secara serius benar-benar memikirkan apa yang akan kalian lakukan jika isu (-isu) yang sama berreinkarnasi lagi di masa yang akan datang.

Dan jika putus-nyambung ini terjadi lebih dari sekali, kamu sebaiknya "berhenti sejenak sebelum balikkan untuk mempertimbangkan apa untungnya berhubungan kembali bagi kesehatan emosional dan apakah memang ada cara untuk membuatnya lebih sehat dan stabil," saran DiDonato. Dan jika memang tidak bisa diselamatkan dan membuatmu sengsara, akhiri (yah, memang susah), tapi ingat: "kesehatanmu lebih penting daripada menghabiskan waktu dengan seseorang yang membuatmu tidak bahagia," kata Preece.

Selanjutnya: sebuah penelitian baru menemukan sebuah terobosan: Botox berbasis tanaman—dan tidak melibatkan suntikan. Wow.