6 Alasan Kenapa Bentuk Badan Tidak Berubah (Padahal Sudah Berolahraga)

6 Alasan Kenapa Bentuk Badan Tidak Berubah (Padahal Sudah Berolahraga)
ISTOCK

Cari tahu penyebabnya sampai dapat. 

Jadi, rajin olahraga? Sudah. Makan sehat? Hmm... kayaknya sih, sudah begitu ya. Namun, tetap saja merasa sepertinya tidak ada perkembangan pada tubuh. Putus asa? Pasti. "Perlu diketahui bahwa ada banyak faktor terkait yang perlu kamu perhatikan jika ingin mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, dan olahraga rutin hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang saling mendukung tersebut," kata Teuku Aufra Maretto, seorang pakar kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia.

Saat WOOP meminta Aufra untuk menuliskan alasan-alasan kenapa olahraga yang kamu lakukan menjadi tidak optimal, dia juga mengatakan satu hal sangat penting, "Satu yang perlu diingat, Rome wasn't built in a day." Berikut penjelasannya. 

1. Kamu tidak memperhatikan pola makan dan asupan nutrisimu.

Kesalahan dalam pola makan adalah penyebab paling umum mengapa kamu tidak melihat ada perubahan pada tubuhmu. Selalu ingat bahwa apapun tujuan fitness-mu, hampir 80% bergantung kepada apa yang kamu makan.

Untuk yang ingin menurunkan berat badan, kamu sudah pasti harus makan di bawah kebutuhan kalori harianmu. Batasi mengonsumsi makanan-makanan berkalori tinggi namun rendah nutrisi, seperti makanan olahan dan junk food. Cara paling mudah untuk memulainya adalah dengan mengurangi konsumsi makanan tersebut sedikit demi sedikit supaya kamu pun tidak kaget dan mendadak craving. Apa yang kamu minum juga harus diperhatikan. Seringkali, akibat bentuknya yang liquid, kamu tidak sadar betapa banyak kalori dari minuman yang dikonsumsi setiap harinya.

Sedangkan bagi yang ingin menambah massa otot, justru harus makan lebih banyak, terutama makanan yang mengandung protein, seperti ayam, ikan, daging, telur dan lain sebagainya. Sebagai acuan dasar, usahakan mendapatkan asupan protein sebanyak kurang lebih 1,5 gram per berat badan. Perlu diperhatikan bahwa saat berolahraga, kita sebetulnya sedang merusak jaringan otot supaya beradaptasi dan tumbuh lebih kuat. Di sinilah nutrisi berperan sebagai sumber tenaga dan bahan pembangunnya. Tanpa asupan yang baik, otot pun akan sulit berkembang. Nah, coba untuk mulai melihat makanan sebagai bahan bakar tubuh, bukan sekadar rekreasi.

2. Kamu tidak memiliki tujuan yang S.M.A.R.T (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Timely). 

Kebanyakan orang hanya membuat tujuan yang samar, seperti "Saya mau punya badan bagus" atau "Saya cuma mau kurusan aja kok." Padahal, motivasi yang kuat didasari oleh tujuan yang terarah.

Ada lima hal yang perlu diperhatikan saat membuat tujuan: spesifik, dapat diukur, dapat diraih, realistis, dan memiliki batas waktu.

Sebagai contoh: Saya mau menurunkan berat badan sebanyak 3 kg dalam waktu satu bulan. Untuk mencapainya, saya akan menyewa jasa seorang personal trainer berpengalaman dan berlatih dengannya dengan frekuensi tiga kali dalam seminggu.

3. Olahragamu tidak terarah atau melakukan latihan yang salah.

Hal ini sering sekali terjadi. Kamu datang ke gym tanpa tahu apa yang mau kamu lakukan di sana. Ujung-ujungnya, cuma lari di treadmill, dan sit up ratusan kali dengan harapan lemak di perut bisa hilang. Atau lompat dari satu mesin ke mesin lainnya dengan beban yang sama sekali tidak berat. Belum lagi, ternyata lebih banyak ngobrol dengan teman dan istirahat, daripada olahraga.

Ada juga yang beranggapan kalau olahraganya melelahkan, artinya efektif. Padahal belum tentu. Apakah melakukan 200 repetisi burpees melelahkan? Pasti. Namun apakah efektif untuk mencapai tujuanmu? Belum tentu.

Agar olahragamu lebih efektif dan terarah, cari program olahraga yang sesuai dengan tujuanmu. Sekarang sudah banyak program-program olahraga yang mudah diakses di internet. Tinggal pilih satu yang cocok dan lakukan sampai selesai. Atau kalau memang sudah memiliki pengetahuan dasar mengenai anatomi tubuh dan jenis-jenis olahraga, kamu bisa mencoba untuk membuat program olahraga sendiri. Atau, kalau mau lebih aman lagi, sewa jasa personal trainer yang bersertifikasi.

4. Pola pikir instan dan terlalu cepat menyerah.

Awalnya semangat. Namun baru seminggu melakukan program olahraga yang tadi dipilih, kamu sudah menyerah dan lompat ke program lain.

Hal ini juga sering terjadi. Dan karena tidak melihat ada perubahan yang signifikan, kamu langsung beranggapan bahwa program yang dilakukan tidak efektif. Padahal badan juga butuh waktu untuk dapat berubah.

Tidak perlu terburu-buru dan terlalu semangat di awal. Jangan seperti bensin yang apinya besar di awal kemudian mengecil dengan cepat, lalu padam. Lebih baik menjadi seperti minyak tanah: meskipun apinya kecil tapi dapat bertahan lama. Take your time. Semua hal hebat membutuhkan waktu. Intensity is important, but consistency is the key to reach your goals.

5. Olahraga yang kamu lakukan begitu-begitu saja, tanpa ada perkembangan.

Tubuh manusia itu pintar. Dia akan beradaptasi dengan tantangan yang diberikan. Nah, kalau kamu hanya melakukan hal yang sama, dengan intensitas yang itu-itu saja, tubuh juga akan berhenti berkembang. Tambah jumlah repetisi, jumlah set, berat beban, kurangi waktu istirahat, atau lakukan gerakan yang lebih menantang untuk mengaplikasikan konsep progressive overload pada olahragamu.

6. Kamu menganggap olahraga itu sebagai paksaan, bukannya kebutuhan.

Ketika kamu melakukan olahraga dengan terpaksa, let's say sebagai hukuman karena kemarin makan kebanyakan, kamu tidak akan menikmati saat menjalaninya. Ubah pola pikirmu, jadikan olahraga sebuah kebutuhan dan nikmati perjalanannya.

Nah, kalau sudah olahraga teratur, tapi belum melihat perubahan signifikan di tubuh, kemungkinan kamu melakukan satu atau beberapa hal di atas. Coba ubah pola pikir, atur pola makanmu, atur ulang tujuan yang ingin kamu capai dan konsisten dalam menjalaninya. Last but not least, bersabarlah dalam menjalaninya.