Tidak Pernah Bosan Mengingatkan: Hindari 5 Hal Ini Saat Wawancara Kerja

Tidak Pernah Bosan Mengingatkan: Hindari 5 Hal Ini Saat Wawancara Kerja
ISTOCK

Karena kita sering kali melakukannya. Entah kenapa.

Seorang teman curhat: kesulitan konsentrasi mewawancarai kandidat karyawan. Alasannya orang tersebut: memakai lipstik merah, behel, lensa kontak berwarna abu-abu, bulu mata ekstensi ribuan meter (OK, ini hiperbola), dan perona pipi belepotan. Phiuuh, tolong berikan sebutir paracetamol. Namun agar adil, teman ini kemudian mengakui bahwa ternyata dandanan dengan perona pipi seperti itu adalah sebuah tren—sehingga bukan salah kandidat, tapi karena kekurangan-tahuan si pewawancara. Jadi, yep, perona pipi: bukan sebuah kecelakaan. Akan tetapi, menurutnya tetap saja melelahkan. 

Ah, wawancara kerja memang agak sensitif; perkara gampang, bagi mereka yang merasa sudah melalui berbagai jenis wawancara di berbagai tempat, dari perusahaan multinasional atau baru buka. Akan tetapi, sebenarnya juga sulit, apalagi untuk para pemula. Dan entah kenapa, tidak peduli seberapa sering kita mendengarkan tips tentang wawancara kerja, kita tetap saja melakukan kesalahan! Jadi, apa pun level/ rekor banyaknya wawancara yang sudah kamu lakoni, disarankan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Jangan sampai hanya karena mata abu-abu, pekerjaan tersebut batal dan menjadi debu. Seorang profesor yang ahli dalam hal kepemimpinan dan psikologi organisasi, Ronald E. Riggio, Ph.D, menuliskan di Psychology Today beberapa hal yang sebaiknya, seharusnya, sebisa mungkin dihindari saat wawancara kerja. 

1. Penampilan Berantakan

Mungkin kamu bukanlah penganut kepercayaan 'kesan pertama begitu penting', tapi dalam hal pekerjaan terutama wawancara kerja, percaya atau tidak, penampilan dan kesan pertama sangat krusial. "Apapun pekerjannya, tampillah profesional dan berpakaian rapi. Pewawancara bisa jadi menganut stereotip (yakni, 'penampilan berantakan = etos kerja berantakan')," tulis Riggio. Contohnya? Yah, kontak lensa abu-abu dan bulu mata super duper panjang tadi. Jadi, sebelum melangkah keluar dari rumah, berdiri di depan kaca (setinggi badan) dan pastikan semuanya proporsional dan melekat pada tempatnya. Dan saat tiba di lokasi wawancara, kunjungi kamar kecil untuk melakukan pengecekan ulang. 

2. Terlihat Bosan 

Hei, bahasa tubuh saat wawancara kerja = penentu. Perhatikan pewawancara dengan atentif dan lakukan kontak mata. Hindari ekspresi bosan, mata berkeliling ke segala penjuru—juga menguap. "Ini mungkin terkesan perilaku kecil yang seharusnya tidak penting jika kamu memang memiliki kualifikasi pekerjaan tersebut, tapi ingat para pewawancara bisa diubahkan dengan [sikapmu] yang terlihat tidak tertarik, dan mungkin saja menyimpulkan bahwa 'rendah interes = rendah motivasi,'" lanjutnya. 

3. Sopan Santun Minim

Menjelang wawancara kerja adalah saat yang tepat untuk mengingat kembali nasihat sopan santun dari orangtua dan guru di sekolah. Aspek ini adalah harga mati—kecil tapi bisa menentukan diterima atau dilepehnya kamu dari daftar kandidat. "Mengucapkan 'terima kasih' adalah wajib, dan bila perlu diikuti dengan [mengirimkan] email pendek berisikan rasa syukurmu." 

4. Menjawab Panjang dan Tidak Jelas

"Fokus dan jawab pertanyaan langsung," saran Riggio. Berhenti sebentar, menarik nafas dan berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan? Lakukan. Itu lebih baik daripada memberikan respon panjaaaang, tapi tidak ada hubungannya dengan pertanyaannya. Hal sebaliknya juga berlaku: hindari memberikan jawaban super pendek, yang hanya berisikan satu kata. Gunakan kalimat lengkap dan jawab pertanyaan dengan antusias (asal jangan berlebihan).