Wednesday, 24 October 2018

Cindercella: "Di Dunia yang Ideal, Aku Pengennya Cella itu Seseorang yang Body Positive."

img detail
ISTOCK

Kenyataannya, beauty vlogger ini masih berjuang dengan makanan dan penampakan fisiknya.

Seandainya penghuni surga nantinya adalah mereka yang memiliki kepribadian seperti Cindercella, maka saya akan rela meninggalkan dunia ini (jika saatnya tiba) dengan sukacita. (Saya cukup yakin akan bisa mampir ke surga, mempertimbangkan kelakuan dan sepak terjang selama ini.) 

Jika kamu adalah salah satu dari 540 ribu pengikutnya di Instagram atau 283 subscriber-nya di YouTube pasti akan mengangguk-angguk dan mungkin menyengir lebar—setuju. Marcella Febrianne Hadikusumo atau Cindercella (atau yang dipanggil "Maru-chan" oleh ibunya), seorang vlogger beauty, memiliki pribadi yang super duper lucu. Dan rasanya cukup masuk akal jika berharap level lucu, memiliki selera humor baik, seharusnya menjadi satu dari top 5 sifat wajib agar bisa masuk ke surga. (Tidak terbayangkan jika surga dipenuhi keseriusan, kening berkerut 24/7—berhubung kita akan tinggal selamanya di sana dan sepertinya tidak tersedia krim anti-aging.) 

Pilihannya ada dua, bilang: "OMG, gilak!" lalu "wkwkwkk" atau "omaigat" lalu diikuti dengan emoji api berkali-kali dan emoticon LOL—saat melihat video penampilannya menyanyikan "Pretty Real" bersama MINYO33, Titan Tyra, Nanda Arsyinta & RAMENGVR di YouTube FanFest Jakarta 2018 ("Aku memang dari dulu ingin jadi penyanyi," katanya. Saat ini Cella sedang mengerjakan sebuah singel lagu.) dengan memakai kostum badut menggembung. Dan seseorang harus punya humor tingkat Robin Williams untuk bisa tersenyum lebar, super antusias saat memercayakan pemakaian bulu mata palsu kepada seseorang bukan makeup artist; di sini kita membicarakan (dan sambil terkekeh) video Cella saat melakukan #MyBoyfriendDoesMyMakeupChallange. 

Butuh bukti lebih? Sepertinya akan susah menahan bibir dalam posisi netral saat melihat bibirnya terkoyak-koyak, terombang-ambing angin dari hair dryer (dengan judul yang membuat terkikik, Live life to the fullest). Oh, oh, jika kamu tertawa (bahkan seandainya teman-temanmu tidak) saat melihat tiga video tersebut, artinya itu tetap lucu. Sains yang bilang. 

Dan vlogger yang pertama kali memasukkan video di YouTube tahun 2010 ini (bukan tutorial dandan, melainkan menyanyikan lagu Jason Mraz "I'm Your's", berusia 15 tahun lengkap dengan poni, rambut panjang, kacamata, behel, dan ekspresi penuh penghatan meski beberapa cengiran menjadi petunjuk bahwa Cella memiliki bakat melucu)—sangat serius dengan misinya menghibur semua orang, tanpa terkecuali. 

"Kalau aku diundang ke talkshow, mereka ketawa, excited ketemu karena bikin mereka ketawa, itu kayaknya hal nomor satu yang bikin aku senang dengan pekerjaan aku," ujarnya dengan sumringah. "Susah banget jelasinnya, tapi aku senang banget liat orang ketawa kayak gara-gara sesuatu yang aku lakuin/ omongin," tegasnya. 

Tiffanny Haddish pernah mengatakan kepada Trevor Noah, "komedi adalah instrumen, dan rahasia saya untuk selalu positif dan hidup. Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi saya merasa sangat senang ketika tertawa. Dan merasa lebih baik lagi ketika melihat orang lain tertawa. Hal yang paling menjadi favorit saya di dunia adalah melihat gigi orang lain,... dan mendengar 'hahaha', semua bagian tubuh dipijat, perasaan mereka lebih ringan. Bahkan ketika mereka menertawakan saya padahal saya tidak ingin mereka tertawa, well... paling tidak mereka tertawa. Itu artinya saya mengobati mereka." 

Ibaratnya seperti itu. 

Cindercella mungkin saja sedang memberikan tips dandan "aneh". (Hari ini dandanannya biasa karena, "kesiangan jadi nggak punya waktu untuk dandan," akunya). Misalnya, tips berdandan untuk Halloween ("Untuk tahun ini belum tahu mau bikin apa, belum ada ide," ujarnya dengan suara panik dan tertawa lebar), tapi intinya adalah humor. Jadi, bahkan ketika pun kamu bukan makeup afiacionado, paling tidak kamu akan tertawa. 

"Aku memang suka banget sih, kalau aku ngomong apa, orang-orang ketawa. Emang pengen liat aku, apalagi di sosial media, sebagai orang yang positif, yang bisa menghibur. Istilahnya, kalau lo nge-follow gue, lo bakal ketawa," tegasnya. Dan postingannya dijamin 99% lucu, karena, "kalau menurut aku nggak lucu, nggak akan aku posting." 

Namun, seperti halnya komedi dan humor yang biasanya memiliki banyak "lapisan", Cindercella itu pribadi yang "berlapis-lapis". Ibaratnya, there's more to her than meets the eye. 

"Di dunia yang ideal, aku pengennya Cella itu seseorang yang body positive," katanya dengan nada serius. "Yang bodo amat aku mau pake apaan aja. Trus, foto dengan sepede itu, trus bilang, ‘gila hari ini gue cakep banget. Lihat nih, lipatan perut gue,'” ujarnya memamerkan gigi. Kayak pengen, ‘yah ilah, paha gue gede banget. I love it,” katanya dengan nada imut dan gigi terpapar lebar. "Pengen banget, karena banyak teman aku yang kayak gitu dan aku ter-inspire banget sama mereka, tapi tetap buat aku sendiri, pake baju segini aja aku merasa takut," ujarnya memegang sweter merah lengan panjangnya dan melirik wide-leg denim yang dipakainya. 

Bertempat di sebuah coffee shop di Jakarta Selatan dengan sebotol air putih di depannya, Cindercella sedang membicarakan bulimia yang sudah dialaminya sejak awal SMA. "Emang nggak suka aja sama bentukan physical appearance aku, the way I look physically," katanya. "Dari dulu sih, dari SMA kelas 1 itu aku udah struggle sama ini," tuturnya.

Penyebabnya: "Itu mungkin karena dulu tuh, aku sempat diet. Terus turun banyak banget, terus jadi apa yaaa...," katanya terdiam sejenak, "ketagihan, terobsesi," lanjutnya, "mau turunin lagi. Jadi, kayak sehari makannya cuma putih telor doang. Padahal itu 'kan nggak baik! Terus, gara-gara kelaparan makannya kebanyakan, terus jadi bulimic."

Cindercella bercerita bahwa saat "kurus", kepercayaan dirinya lebih tinggi. Berani memakai berbagai jenis baju. "Sekarang tuh, benar-benar kayak bajunya, entah itu musim panas atau dingin, selalu yang winter. Pakai tangan segini aja aku takut," katanya sambil menunjuk pergelangan sikunya. Intinya, Cella bilang bahwa sangat kecil kemungkinan melihatnya memakai tank top atau baju lengan pendek baik di media sosial maupun di dunia nyata. "Nggak mau, nggak mau," tegasnya dengan suara horor. 

Apakah dia memiliki gambaran tubuh ideal, tanya saya. 

"Aku tuh nggak mikirin kayak, 'eh pengen ke badan dia, atau badan si ini', tapi aku lebih mikir ‘dulu gue pernah lebih kecil daripada ini, dan gue pengen jadi diri gue yang dulu'. Dan kalau misalnya dulu gue bisa seperti itu, sekarang bisa dong," responnya. Namun, Cella menceritakan bahwa meski "sudah olahraga banget, makannya sehat banget, tapi tetap begitu-begitu saja. Aku jadi stres."

Cella pun mengaku pernah satu kali melakukan botox. Hasilnya, "bikin aku senang banget," karena tulang pipi tirus dan kepercayaan dirinya bertambah—sesuatu yang diimpikannya. Akan tetapi, karena harus dilakukan ulang setiap dua bulan sekali, Cella menghentikannya karena berbagai alasan, salah satunya yang paling praktis: duit. 

"Nanti aku tinggal di mana? Duit gue habiiiis dong," ujarnya menutup kedua mata dengan telapak tangan. "Jadi aku mikirnya, udahlah. Mungkin duitnya boleh dipake, tapi buat olahraga, buat katering makan sehat. Ada kok cara lain," ujarnya seperti berusaha menyakinkan diri sendiri. "Tapi aku juga mikirnya, aku tuh termasuk orang yang meskipun sudah olahraga banget, berat badannya nggak cepat turun. Jadi, akhirnya balik lagi ke pemikiran negatif," ujarnya menghela nafas. "Tapi yang bikin aku senang dengan olahraga itu, mental aku kayak bilang ‘eh gue udah olahraga hari ini jadi nggak usah mikiran tentang badan lo deh. Pokoknya, badan lo sudah berterima  kasih karena hari ini lo sudah mengolahragakan dia.'" 

Bulimia nervosa adalah sebuah eating disorder, ciri utamanya adalah makan berlebihan dan eksesif, lalu diikuti dengan jenis kompensatori tertentu. Orang dengan bulimia memiliki ketakutan mengalami kenaikan berat badan; meski ini bukan berarti semua orang dengan bulimia kurus, beberapa mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Dalam skala dunia, diperkirakan ada 70 juta orang yang memiliki kondisi ini. Dan oleh karena ini merupakan sebuah kondisi yang serius, maka dibutuhkan perawatan yang intensif. Dengan perawatan, 60% penderita kelainan pola makan bisa pulih sepenuhnya. 

"Ini memang serius banget, sampai ada yang meninggal 'kan?" cetusnya dengan nada prihatin. "Awalnya aku nggak mau," ujarnya tentang perihal mencari bantuan. Namun, karena bingung melihat tingkah laku anak, sang ibu mencari tahu, bertanya kepada Google 'apa yang harus dilakukan jika seseorang menderita bulimia?' Akhirnya berkonsultasi dengan psikolog dan masih sampai sekarang, meski "awalnya aku nggak mau. 'Buat apaan sih, Ma,'" ujarnya menirukan anak kecil yang sedang merengek dan tidak mau mandi. 

The power of emak-emak berbicara, akhirnya "aku coba juga," tuturnya tersenyum lebar. 

Apakah membantu? 

Mengangguk kepala dengan tegas, "Enak, karena ada yang dengarin kita ngomong gitu, seleluasa itu, karena ini bukanlah topik yang bisa dibicarakan dengan teman setiap hari 'kan?"

Salah satu hal yang saran praktis dari psikolog yang selalu Cella usahakan untuk dipraktikkan setiap hari adalah untuk berdiri di depan cermin dan bilang, "kamu cantik, dan kamu enough." [Sang ibu selalu mengatakan ini setiap kali chat dan menelepon: "You are enough."]

Cella mengakui bahwa "mantra" tersebut tidak selalu ampuh setiap hari. "Susaaah," ujarnya dengan ekspresi dan intonasi putus asa, "masih terus berjuang. Masih jauh seperti [jarak] Bintaro ke Amerika."

Fluktuatitf.

Di hari-hari tidak stabil, tetap masih ada rasa takut ketika makan sesuatu, dan sedih setelah menelannya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa, "sekarang sudah lumayan better banget," wajahnya berubah sumringah. "Karena aku sekarang bersyukur aja gitu lho, kayak ‘lo mau apalagi, sih? Lo maruk banget sebagai manusia, kok nggak pernah puas'. Jadi, aku mikirnya ‘mungkin kalau pun aku hidup sehat banget, olahraga rajin banget 'emang badan lo di sini doang kali, jadi lo terima aja.'"

Di hari-hari yang baik, seperti hari wawancara ini terjadi, "aku nggak mau mikirin yang begituan, yang sedih-sedih gitu," ujarnya membocorkan menu sarapan paginya (gado-gado) dan makan siang (salmon). 

Satu hal yang membuat saya penasaran: apakah para follower-nya di media sosial tahu hal ini?

"Nggak," katanya, menggelengkan kepala. Cella menghela nafas, berujar bahwa memang penting untuk menyebarkan awareness tentang kesehatan mental dan dia memuji teman-temannya yang memposting tentang hal itu. Ada beberapa pertimbangannya, di antaranya "aku juga nggak mau kelihatan kayak orang yang rapuh atau lemah," atau "seperti mengumbar-umbar drama" dan perasaan, "udah itu biar gue aja yang ngerasain. Biar aja gue yang sedih, nggak usah yang lain ikut-ikutan."

Kenapa?

"Karena aku pengen aja orang senang melihat Instagram aku, YouTube channel aku. [Saat mereka] lagi sedih dan ngeliat Instagram Cella, mereka senang, bukannya sedih," ujarnya. Itu, dan semakin rumit, karena ini: "Aku takut salah ambil kata. Salah ngomong." Bisa dimaklumi karena kesehatan mental adalah topik yang sensitif. 

Cindercella bercerita bahwa dirinya dulu pernah memposting sesuatu yang sedih, dan setelahnya... terjadi kesedihan yang tidak ada ujungnya, semua orang sedih. "Aku sedih, dia sedih, aku ikutan sedih lagi, begitu terus. Aku merasa 'nah, itu gara-gara aku,'" ujarnya dengan nada meratap. "Lebih pengen men-spread yang bikin orang senanglah," ujarnya menyengir lebar. 

"Mungkin nanti, aku harus cari kata-kata yang tepat dulu," ujarnya setelah terdiam sejenak. "Karena ini masalah yang sensitif, karena menurut aku ya, di Indonesia itu mental health itu masih apaan, ya? Lo sakit apa dibilang gila, padahal kan lo nggak tahu? Atau misalnya depressed, dianggapnya ‘ah, itu mah sedih doang’. [Padahal] Itu lo nggak tahu, lo nggak ada di sepatu kita, lo nggak di posisi itu. Trus, udah ada yang berani menceritakan itu, tapi orang-orang masih yang comment ‘ah, lemah banget sih, lo'. Itu bikin aku [ujarnya sambil mengeluarkan desisan ular] kayak ‘dengarin aja dong," ucapnya dengan nada memelas anak kecil yang berharap dengarkan oleh ibunya yang sedang terpaku dengan handphone.

Saat bercerita, Cinderella sangat ekspresif; intonasinya sangat imajinatif. Pun saat mengutarakan tentang kesehatan mental, senyumnya lebar dan menular, celetukan-celetukannya lucu dan nakal; mau tidak mau, membuat yang mendengarkan tertawa. Dan dari sekian topik di dunia ini, Cella mengaku ada dua topik yang membuatnya sedih: pertama, masalah bulimia tadi, dan kedua, percintaan. Apakah kehidupan percintaannya sangat menyedihkan? 

Dia tergelak keras, hingga badannya miring ke belakang. "Cinta aku…hmm," ujarnya dengan sorot mata berbintang-bintang, "mungkin karena setiap kali aku pacaran, aku kasih segalanya banget." Jika tentang psikolog Cella mendengarkan ibunya, untuk masalah cinta... agak sulit. "Mamaku selalu bilang, 'jangan kasih seratus persen ya?'" ujarnya, matanya membesar. "Tapi aku kasih 150!" katanya dengan nada memelas dan seperti menirukan suara Juliet ketika menceritakan pertemuan pertama dengan Romeo. "Mau gimana? Emang kayak kalau sayang, sayang banget. Sekalinya sedih, jatuhnya sakit banget. Tapi sekarang lagi happy kok," ujarnya sumringah. Senyumnya sungguh menular. 

Berikutnya saya bertanya bagaimana menjelaskan kondisi bulimianya terhadap pasangannya. 

"Tadinya aku malah nggak mau kasih tahu," jawabnya cepat. Akan tetapi, niat tersebut terbang tertiup hair dryer karena ada waktu saat bersama pasangan, tiba-tiba dia menangis—atau berusaha menahan tangis. Bisa dipastikan sang pacar bingung dan bertanya ada apa dengan Cella? "Jiaah, malah jadi banjir deh," ujarnya meniru suara tangisan meraung.

"Jadi, pelan-pelan aku ceritain ke dia, awalnya sulit apalagi kalau nggak ngalamin, [mereka] jadi sulit mengerti."

Dari beberapa pengalaman, Cella menyimpulkan bahwa biasanya ada dua jenis respon: satu yang bilang, ''jangan begitu, lo cantik kok, nggak gendut lo', dan kedua, 'kalau lo nggak suka ama badan lo yang sekarang, lo do something-lah. Nangis gak bikin lo kurus. Olahraga. Makan sehat.' 

Mana yang lebih bisa diterimanya?

Menurutnya, respon pertama sangat positif tapi efeknya hanya sebentar. Respon yang kedua juga sangat positif karena memberikan dukungan untuk mencari solusi nyata. Jadi, intinya, "aku butuh kedua tipe respon itu," tegasnya.

Dari sisi internal, kata 'bersyukur' sangat membantunya. “Bersyukur," katanya dengan suara melankolis, menyentuh meja dengan ujung jari. "Bersyukur hari ini aku senang, bersyukur hari ini aku bisa ketemu sama mama papa."

Selain itu, jika suasana hatinya sedang kelabu, kabur, curhat dan berkumpul dengan orang-orang terdekat adalah triknya untuk lebih semangat.  Tidak hanya didengarkan, tapi Cella juga merasa terhibur karena, "teman-temanku lucu semua. Papa, mama aku lucuuu," ujarnya dengan ekspresi imut. 

Oke, positif: semua orang itu akan masuk surga. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR