Friday, 22 June 2018

Orangtua yang Mengalami Gejala Depresi Cenderung Lebih Cepat Marah Kepada Anak

img detail
iSTOCK

Bahkan jika gejalanya terbilang ringan.

Ternyata orangtua yang mengalami gejala depresi membuat mereka bereaksi berlebihan kepada anaknya. Hal ini disimpulkan oleh sebuah studi panjang yang dilakukan oleh Universitas Pittsburgh yang ingin menganalisa bagaimana proses pola asuh pada periode awal masa kanak-kanak dipengaruhi oleh hubungan internal orangtua dan lingkungan keluarga yang lebih luas. 

Para ilmuwan meneliti 519 keluarga adopsi yang berpartisipasi dalam Early Growth and Development Study, dengan menganalisa anak ketika berusia 9, 18, dan 27 bulan. Hasilnya: reaksi berlebihan orangtua ada hubungannya dengan gejala depresi pada ibu dan tingkah laku eksternal anak. "Dengan kata lain, para ibu dengan tanda-tanda depresi cenderung bersikap berlebihan atas tingkah laku anak mereka, yang pada akhirnya bisa diprediksi menimbulkan masalah emosi dan tingkah laku pada anak," kata Lindsay Taraban, salah satu peneliti, kepada PsyPost

Reaksi yang berlebihan orangtua yang dimaksudkan, termasuk di antaranya orangtua lebih cepat marah, lebih sinis dan kasar saat anaknya bertingkah. 

Oh, bagaimana dengan ayah? Sama saja. Jika ayah mengalami tanda-tanda depresi juga cenderung reaktif dan berlebihan. Akan tetapi, hal tersebut tidak memprediksi masalah emosi dan tingkah laku yang terjadi pada anak. Jadi, efeknya tidak separah ketika sang ibu yang mengalami depresi. 

Intinya, kedua orangtua (ayah dan ibu) kemungkinan besar akan lebih cepat marah dan jahat, merusak pola asuh yang sudah baik ketika mereka mengalami gejala depresi. "... bahkan jika gejala-gejala depresinya terbilang ringan," kata Taraban. 

Lantas apa yang bisa dilakukan? Penelitian ini menemukan bahwa hubungan sosial di luar pernikahan memegang peranan penting. 

"Hasil penelitian ini menekankan pentingnya orangtua dengan pasangan yang depresi menemukan dan menjaga hubungan sosial di luar pernikahan mereka," jelas Taraban. Data penelitian ini mengindikasikan bahwa baik ibu dan ayah, "ketika satu pihak dengan gejala depresi memiliki seorang pasangan yang sangat puas dengan jaringan pendukung sosial mereka, depresi yang dialami oleh satu pihak [ayah atau ibu itu] cenderung tidak menodai pola asuh anak." 

Harus dicatat bahwa penelitian ini dilakukan pada keluarga yang mengadopsi anak; tujuannya untuk mengeliminasi kaitan antara genetik, tingkah laku dan pola asuh. Akan tetapi, Taraban mengatakan bahwa dalam banyak sisi, hal yang sama juga seringkali terjadi pada keluarga non-adoptif (orangtua kandung yang depresi bereaksi berlebihan terhadap anak). 

Para peneliti juga beranggapan bahwa ini adalah sebuah gebrakan awal  untuk mengerti lebih lanjut pentingnya peranan ayah di dalam pola asuh dan perkembangan anak. 


MORE ARTICLES


MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR