Mengapa Kamu Selalu Merasa Lapar?

Mengapa Kamu Selalu Merasa Lapar?
ISTOCK

Cacingan mungkin bukan penyebabnya. 

Baru saja makan siang, eh... perut sudah lapar lagi. Padahal, tadi makannya banyak dan bermacam-macam. Apa ya, penyebabnya? Kok lapar terus! Dan ini sudah berlangsung berhari-hari, padahal jadwal datang bulan masih lama. 

Jika kondisimu saat ini, satu hal yang perlu diingat: perutmu bukan sumur tanpa dasar. Sebenarnya, ada alasan ilmiah di balik fenomena ini. Menurut penelitian, rasa lapar berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sepertinya tidak berbahaya, mulai dari jenis cemilanmu sampai jam waktu tidur. Ini penjelasannya. 

REFINED CARBS

Ngemil satu iris pizza, lalu 15 menit kemudian menghabiskan semangkuk pasta putih. "Surga dunia" ini dibuat dari refined carbs, artinya mereka mengalami banyak proses dan kurang nutrisi. Dengan cepat badan membakar makanan sejenis ini, menyebabkan gula darah naik dan hancur secepat kilat, sehingga level glukosa rendah. Sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa high-glycemic meal (makanan yang cepat dicerna, diserap, dan dimetabolisme) mengurangi glukosa, mempercepat rasa lapar, dan menstimulasi bagian-bagian otak yang berhubungan dengan reward dan craving dibandingkan dengan low-glycemic meal. Jadi, ketika mengkonsumsi refined carb, kamu akan semakin ingin makan karbo karena perubahan level glukosa yang cepat.

Solusi: Konsumsi lebih sedikit makanan olahan, dan pilih whole grains dan karbo sehat yang ditemukan dalam polong-polongan, buah, dan produk susu. 

TIDAK CUKUP TIDUR 

Bukan sebuah rahasia kalau tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas. Selain menyebabkan grogi dan kecanduan kopi, kekurangan tidur bisa mempengaruhi nafsu makan. Menurut sebuah studi di European Journal of Clinical Nutrition, ada kaitan yang erat antara kekurangan tidur dan makan berlebihan, karena kondisi kurang tidur rata-rata akan memakan 385 ektra kalori keesokan harinya. Lebih buruknya lagi kebanyakan kalori tersebut berupa lemak, karena kondisi kurang tidur akan membuat kita cenderung menghindari protein dan makan bernutrisi keesokan harinya. Para peneliti memperkirakan bahwa makanan tinggi kalori dan berlemak tersebut dianggap seperti sebuah "hadiah" dari kurang tidur—yang merupakan efek normal dari kurang tidur. 

Solusi: Tidur! 

HAUS 

Lain kali merasa lapar, coba renungkan berapa banyak air yang kamu minum hari itu. Sebuah studi di Physiology & Behaviour menemukan bahwa para peserta penelitian merespon rasa lapar dan haus dengan kalap sebesar 62% saat merasakannya. Ini artinya kita seringkali bingung membedakan antara rasa haus dengan lapar, memilih makan daripada minum, padahal itu yang sedang dibutuhkan. Sama sekali tidak mengejutkan, karena sensasi lapar dan haus berasal dari bagian otak yang sama. Pada kasus yang lebih serius, haus merupakan gejala dehidrasi.